ADdiction

Penipuan Iklan di Dunia Meningkat

Addiction.id-Jakarta. Penipuan iklan seluler semakin meningkat. Demikian hasil laporan Adjust, sebuah platform pemasaran aplikasi. Laporan pun menyebutkan adanya dampak dari kerusakan akurasi data pemasaran—yang digunakan untuk membuat keputusan bisnis.

Sebagai informasi, laporan tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menggunakan data Fraud Prevention Suite Adjust di periode Januari-Agustus 2020.

“Pemasar harus yakin dengan data mereka, keputusan strategis berbasis data sulit diambil tanpa informasi yang jelas. Intinya, penipuan masih dan akan terus menjadi tantangan yang kita hadapi dalam industri. Akan tetapi, dengan menggunakan alat yang tepat, kita bisa selangkah lebih maju dari para penipu dan memastikan bahwa kita tetap memprioritaskan transparansi,” jelas Director of Fraud Prevention Adjust Andreas Naumann, belum lama ini.

Hasil penelitian mendapati bahwa para penipu memalsukan instalasi berbayar dan organic traffic—instalasi yang tak bisa distribusikan sembarangan ke kegiatan pemasaran apapun untuk menyembunyikan instalasi berbayar yang dicuri.

Dua per tiga dari 200 juta instalasi yang ditolak merupakan instalasi organik dan hanya sepertiga yang merupakan instalasi berbayar. Meski secara teknis pemasar seluler tak kehilangan uang, instalasi organik palsu ini bisa merusak integritas data dan informasi yang mestinya bisa dikumpulkan oleh pemasar dari kegiatan pemasaran.

Sejatinya, mereka berisiko tak mengira akan menghadapi situasi di mana kegiatan penipuan banyak terjadi dan data pemasar tak akurat, termasuk data instalasi organik. Padahal mesti kita sadari bahwa penipuan iklan menjadi masalah global, di mana para penipu bekerja secara aktif di hampir semua negara.

Secara rinci, untuk kategori game di tingkat global, penipuan meningkat hingga 172,95% antara Agustus 2019 hingga 2020. Kenaikan tingkat penipuan di Kawasan Eropa, Timur Tengah dan Africa atau EMEA bahkan mencapai 181,20%, di AS sebesar 310,29%, dan Asia Pacific sebesar 214,86%.

Adjust berupaya untuk mengidentifikasi metode penipuan yang paling banyak digunakan dalam ekosistem iklan seluler. Diketahui bahwa penipuan dengan penggunaan palsu/bot terus menjadi yang paling banyak terjadi.

“Penipuan dengan metode ini setara dengan 68,7% dari kegiatan penipuan di AS, 65,6% di Tiongkok, 60,7% di Jepang dan 47% di EMEA, Spoofing SDK masih mendominasi di Amerika Latin (51.16%),” lanjut Naumann.

Oleh karena itu, para pemasar perlu menggunakan solusi, seperti SDK Signature, yang bisa digunakan secara gratis untuk mengatasi penipuan semacam itu.

“Kami menemukan bahwa di negara-negara yang sudah mengadopsi SDK Signature secara lebih luas, para penipu beralih dan menggunakan skema alternatif yang menyulitkan mereka dan kurang menarik. Alhasil, anggaran iklan aplikasi di daerah tersebut lebih jarang dicuri,” terang dia.

Namun, bukan berarti risiko Spoofing SDK di daerah itu lebih rendah daripada di kawasan lain. Risiko yang berkaitan dengan perusahaan yang tidak menggunakan SDK Signature untuk melindungi diri sama tingginya atau bahkan lebih tinggi, untuk semua negara. Data Adjust juga menunjukkan bahwa SDK Spoofing paling banyak terjadi pada aplikasi Makanan & Minuman (59,7%) dan aplikasi Bisnis (34,9%).

(LH)

About author

Related Articles