ADdiction

Langgar Etika Periklanan, Iklan yang Klaim Tangkal Corona Ditarik

Addiction.id-Jakarta. Di situasi yang memicu rasa panik, masyarakat mudah diberdaya oleh informasi apa pun, termasuk yang menyesatkan. Hal ini justru menjadi ladang pengusaha nakal untuk mencari untung dengan memasarkan produknya.

Salah satu cara mereka  memasarkan produk  yaitu menarasikan informasi sesat melalui iklan. Seperti di masa pandemi virus corona (SARS-CoV-2) saat ini.

Ketua Badan Pengawas Periklanan Persatuan Perusahaan Periklanan (BPP P3I),  Susilo Dwihatmanto mengatakan ada sejumlah iklan televisi, terkhusus di masa pandemi ini yang melanggar Etika Periklanan Indonesia (EPI).

Sekadar informasi, EPI merupakan pedoman para pelaku industri periklanan dalam berperilaku dan berbisnis.

“Beberapa iklan melanggar ketentuan dari BPOM (red: Badan Pengawas Obat dan Makanan) karena mengangkat kelebihan produk yang bukan semestinya. Misalnya, obat herbal untuk masuk angin. Ada klaim bisa mencegah virus karena mengandung jahe merah. Namun, klaim tersebut akan masuk ke wilayah BPOM,” jelas Susilo, saat dihubungi Addiction, Senin (11/05).

“Contoh lain, obat penyejuk panas dalam. Kasusnya mirip. Disebut mengandung alang-alang untuk mencegah virus,” sambungnya.

Sayangnya, ia tidak bisa merinci iklan merek yang dimaksud. “Maaf saya tidak sebut merek,” katanya.

Iklan yang melanggar etika itu, kata Susilo, sudah ditarik per April. Ia pun menambahkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan BPOM.

“Sekarang, iklan itu sudah tidak ada. Iklan muncul bulan April dan gak lama, di-take down bulan April juga. Mungkin langsung ditegur BPOM. Kami juga  bekerja sama dengan BPOM dan KPI,” katanya.

Sementara itu, diketahui sebelumnya, Kepala Badan POM Penny K Lukito menegaskan, pihaknya tidak pernah setuju adanya obat herbal yang dapat mengobati semua penyakit, termasuk Covid-19.

“Sampai saat ini Badan POM tidak pernah memberikan persetujuan klaim khasiat obat herbal yang dapat mengobati segala jenis penyakit, termasuk infeksi virus Covid-19,” kata Penny, dikutip dari pom.go.id, Selasa (05/05).

BPOM, lanjutnya, hanya memberi nomor izin edar (NIE). Jika NIE tertera produk tersebut telah dilakukan evaluasi terhadap aspek keamanan, khasiat, dan mutu. Kendati demikian, klaim khasiat suatu obat herbal harus dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinis dan uji klinis.

“Apabila suatu produk herbal terbukti berkhasiat untuk mengobati suatu penyakit, maka klaim khasiat tersebut akan tertera pada label/desain kemasan produk,” sambung Penny.

Ia menyarankan masyarakat selalu melakukan pengecekan nomor izin edar serta informasi yang tertera pada kemasan produk obat herbal. Selain itu, dia menyarankan agar masyarakat berkonsultasi ke dokter apabila memiliki riwayat penyakit tertentu sebelum mengonsumsi obat herbal.

“Badan POM mengimbau masyarakat agar lebih hati-hati dan tidak mudah percaya iklan atau pernyataan seseorang yang menyatakan bahwa obat herbal ampuh mengobati Covid-19,” tandas Penny. (LH)

About author

Related Articles