ADdiction

Boikot Iklan Sudah Biasa, di Tanah Air Belum Ada

Addiction.id-Jakarta. Sejumlah perusahaan besar di Amerika Serikat (AS) dan Eropa menilai Facebook tak becus dalam menghentikan penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di platformnya. Berangkat dari kekecewaan ini, mereka menarik iklannya dari platform ini dan berkonsolidasi untuk mengampanyekan ‘Stop Hate For Profit’.

Daniel Rembeth, Direktur Pricewaterhousecoopers (PWC) Indonesia, menuturkan bahwa aksi semacam itu memang biasa terjadi di AS dan Eropa.

“Ini bukan kasus yang pertama. Karena kepedulian sosialnya, di sana udah sering  pengiklan dan perusahaan besar, misalnya, memboikot acara televisi. Sekarang giliran menimpa Facebook dan Twitter,” ujarnya saat dihubungi Addiction.id, Rabu (01/07).

Sebagai konsultan bisnis, ia sejatinya melepaskan urusan kebersertaan aksi semacam itu kepada klien. “Itu terserah masing-masing klien,” imbuh dia. 

Kendati demikian, Daniel mengaku sangsi pada sikap pihak perusahaan di Tanah Air. “Saya ga yakin klien punya keberanian untuk melakukan itu,” tandas pria yang juga merupakan anggota Badan Pengawas Periklanan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (BPP P3I) ini.

Selain itu, menurut pendapat Daniel, ada dua hal lain yang membuat para pelaku industri ini tak ikut aksi semacam itu.

Pertama, mereka tak peduli dengan isu sosial yang ada. “Misalnya, ada siaran yang menayangkan kekerasan seperti KDRT atau kekerasan pada anak dan lain sebagainya, ada brand yang menarik iklan dari situ ga? Saya rasa belum ada ya,” ungkapnya.

Selanjutnya, yang kedua, hanya terpaku pada rating. “Kebanyakan pengiklan kita itu masih memilih program atau ruang iklan berdasarkan rating. Sejelek apa pun program tidak mencerdaskan, itu tetap dipasang iklan karena ratingnya tinggi. Makanya tayangan semacam itu bakalan tetep ada, karena masih ada pengiklannya,” jelas Daniel.

“Saya sih mendorong klien dan agensi itu jangan berpatokan pada rating,” sambungnya.

Di lain sisi, ia menyadari, di platform media sosial memang sudah ada gerakan sosial, namun gerakan belum begitu besar. “Sehingga tidak signifikan juga kalau pengiklan mau boikot iklan,” tandas Daniel.

(LH)

About author

Related Articles