ADdiction

Belanja Iklan Digital Meningkat, Pemasaran di Digital Bisa Permanen

Addiction.id-Jakarta. Banyak masyarakat yang menghabiskan waktunya di rumah akibat pandemi Covid-19. Hal ini beriringan dengan peningkatan penggunaan internet–sebagai penunjang kerja, belajar, hingga hiburan.

Terbukti, Global Web Index melaporkan, lebih dari 76% pengguna internet berusia 16-64 tahun menghabiskan waktunya untuk berselancar di internet.

Mengutip Kontan pada Selasa (21/07), Country Director ADA di Indonesia Faradi Bachri mengatakan banyak pengusaha yang merasa bisnisnya lesu melihat perubahan perilaku konsumen di pandemi ini.

“Padahal konsumen tidak hilang. Mereka hanya beralih ke digital platform yang memungkinkan mereka untuk tetap beraktivitas dan bersoialisasi di tengah situasi pendemi,” jelas dia.

Pandemi ini, lanjut Faradi, justru mempercepat tranformasi digital. Konsumen akan menilai digitalisasi tidak sesulit yang dibayangkan. “Sehingga lambat laun menjadi permanen,” imbuhnya.

Tak hanya peralihan ke digital, pandemi pun membuat masyarakat menahan konsumsinya. Mereka hanya fokus pada kebutuhan harian, sementara sisanya disimpan atau ditabung untuk berjaga-jaga.

Lebih lanjut, Faradi mengatakan, perusahaan umumnya menahan pengeluaran untuk pemasaran. Perusahaan cenderung menyimpan atau mengalihkan dana untuk situasi darurat. Karenanya, aktivitas pemasaran diprediksi menurun pada masa pandemi.

Kendati begitu, ada sejumlah perusahaan yang berhasil memanfaatkan situasi ini untuk memasarkan produknya melalui platform digital. Ia mengatakan pihaknya melihat  pertumbuhan belanja iklan digital yang signifikan pada Januari hingga Juni 2020, dibandingkan dengan tahun lalu.

“Pertumbuhan tersebut mencapai 25% dengan puncak aktivitas belanja iklan pada Juni,” lanjutnya.

Kenaikan belanja iklan digital itu menunjukkan bahwa perusahaan mampu beradaptasi dengan situasi secara cepat. Ia bisa memanfaatkan platform digital, menyesuaikan pesan, dan melakukan pendekatan kreatif agar relevan dengan situasi yang dihadapi konsumen.

Tak hanya itu, pemanfaatan data begitu penting. Jika proses pengolahan dan analisis data dilakukan dengan benar, maka perusahaan bisa mendapat pengetahuan yang bisa diolah agar pasarannya tepat sasaran.

Satu bukti pentingnya hal tersebut ialah data ADA yang menunjukkan peningkatan hingga 700% terkait penggunaan aplikasi traveling di Indonesia pada Maret 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa pandemi tidak menyurutkan keinginan untuk traveling.

“COVID-19 tidak lantas mematahkan keinginan masyarakat untuk bepergian. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, mereka menghabiskan waktunya untuk melihat aplikasi atau konten yang berkaitan dengan traveling. Tugas pemain bisnis adalah menangkap keinginan tersebut, kemudian membuat solusi bagi konsumen,” tutup Faradi.

(LH)

About author

Related Articles