ADdiction

Belanja Iklan di Perusahaan Media Menurun

Addiction.id-Jakarta. Semua pihak di dunia tentunya terdampak di masa pandemi Covid-19. Di tengah krisis, masing-masing melakukan sejumlah upaya untuk terus bertahan dan tetap eksis, termasuk emiten grup media di Indonesia.

Salah satu hal yang dilakukan perusahaan-perusahaan media tersebut ialah menggenjot iklan guna mengurangi berdampak pandemi terhadap kinerja perusahaannya.

Berangkat dari upaya ini, hasil riset Panin Sekuritas menemukan, emiten sektor barang konsumsi mencatat porsi belanja iklan terhadap pendapatan lebih tinggi, dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya, dikutip dari CNBC (27/11).

Untuk diketahui, porsi belanja iklan terhadap pendapatan dari emiten sektor barang konsumsi dalam 5 tahun terakhir rata-rata ada di level 6,1%. Khususnya di 2019, rata-rata porsi belanja iklan terhadap pendapatan sepanjang tahunnya ada di kisaran 6,8%.

“Memasuki 2020, porsi belanja iklan terhadap total pendapatan relatif masih meningkat—di mana di 3Q20 ada di level 7,7%. Ini menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten di sektor media, seiring dengan kontribusi belanja iklan dari FMCG yang masih cukup tinggi (sekitar 60%-70%) terhadap total pendapatan iklan emiten media” tulis riset Panin Sekuritas, yang dipublikasikan awal pekan ini.

Kendati demikian, porsi pendapatan perusahaan media dari iklan rata-rata berkurang jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Sebelumnya, Perusahaan media milik Hary Tanoesoedibjo, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) hingga akhir September 2020 terjadi penurunan laba bersih 17,50%. Hal ini terjadi karena penurunan pendapatan dari iklan—yang selama ini berkontribusi besar terhadap pendapatan perusahaan.

Di pos iklan nondigital turun menjadi Rp 4,84 triliun dari Rp 5,53 triliun. Sementara, iklan digital naik tipis menjadi Rp 675,94 miliar dari Rp 502,99 miliar. Namun, naiknya iklan digital ini tak bisa mengkompensasi penurunan iklan nondigital.

Kemudian kontribusi pos konten pun menurun menjadi Rp 1,09 triliun, dari periode sembilan bulan pertama tahun lalu yang senilai Rp 1,29 triliun.

Penurunan porsi iklan di MNC itu membuat pendapatan perusahaan menurun. Adapun yang menjadi faktor kemungkinannya yaitu karena adanya larangan terhadap stasiun televisi untuk mengundang penonton secara langsung. Hal ini membuat perusahaan media terpukul. Pasalnya, tanpa penonton yang hadir, iklan pun menjadi ‘seret’.

Selain itu, faktor lainnya ialah karena porsi belanja iklan dari emiten sektor lainnya, terutama di sektor ritel juga turun. Sebab rata-rata di emiten sektor ini sedang melakukan efisiensi, sehingga belanja iklan yang tak penting akan dikurangi.

Tujuannya agar beban iklan yang dibayar oleh emiten ritel kepada emiten media bisa diminimalisir. Untuk diketahui, sektor ritel ialah sektor yang paling terdampak pandemi.

Meski belanja iklan global masih tumbuh lebih lambat dari tahun lalu, namun belanja iklan di Indonesia sendiri diprediksi akan semakin meningkat ke depannya.

“Kami memperkirakan di Indonesia, tren akan sedikit berbeda seiring dengan penetrasi dari smartphone dan juga internet yang masih lebih rendah dibanding negara-negara lain. Dengan aktivitas masyarakat yang masih cenderung terbatas, dan adaptasi masyarakat untuk mengkonsumsi hiburan, bekerja, dan juga belajar secara online, kami memperkirakan pertumbuhan belanja iklan digital masih akan cukup tinggi seiring dengan adanya perpindahan alokasi belanja iklan dari media lain ke iklan digital”, jelas riset laporan Panin Sekuritas.

(LH)

About author

Related Articles