Penggunaan Internet yang Baik Bantu Promosikan Budaya dan Pariwisata Indonesia

Penggunaan Internet yang Baik BantuPenggunaan Internet yang Baik Bantu Promosikan Budaya dan Pariwisata Indonesia Promosikan Budaya dan Pariwisata Indonesia Addiction.id-Jakarta Hadirnya internet mempermudah Indonesia mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata ke dunia. Di saat yang bersamaan, promosi ini juga memberi wawasan baru kepada para pengguna internet. Berangkat dari hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi untuk membesut program Indonesia Makin Cakap Digital di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (30/6). Digelar secara virtual, program itu dibesut berdasarkan empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Hingga 2024, program ini diharapkan bisa membuat 50 juta orang mendapat literasi digital. Gerakan Nasional Literasi Digital itu diharapkan mampu mendorong masyarakat agar cerdas, positif, kreatif, dan produktif dalam menggunakan internet. Pun diharapkan bisa membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet di era industri 4.0. Adapun program ini secara khurus ditujukan untuk para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya. Kali ini, acara dengan format seminar daring itu mengangkat tema "Jadi Penjelajah Wisata Bangga Budaya Indonesia". Ada sejumlah narasumber yang diundang sebagai pembicara, antara lain CEO Hycom Komunikasi Habibi Yukezain, Komunitas Cianjur Creative Network, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Gandi Sucipto, dan Presidium Mafindo Farid Zamroni. Pada kesempatan itu, Habibi mengatakan bahwa di negara-negara di Eropa, sekitar 90% jenis pekerjaan mewajibkan pekerjanya punya kompetensi digital. Maka dari itu, menurutnya, masyarakat Indonesia juga mesti mampu meningkatkan kapasitas digitalnya, entah belajar secara mandiri atau mengikuti pelatihan khusus. Adapun, lanjut dia, sejumlah keahlian digital yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini antara lain web developer, data specialist, analis business intelligence (BI), cloud architect, hingga arsitek artificial intelligence (AI). "Ribuan pekerjaan juga banyak yang tercipta dengan perkembangan dunia digital, seperti marketing specialist, traffic manager, dan copywriter. Pekerjaan itu memang yang dibutuhkan perusahaan. Namun selain profesi, banyak juga jenis usaha yang berkembang di dunia digital saat ini," sambung Habibi. Perihal budaya di dunia digital, Gandi Sucipto menuturkan bahwa perkembangan teknologi digital mestinya bisa dimanfaatkan untuk memajukan destinasi wisata, Misanya lewat pengenalan budaya dan kekayaan alam di Indonesia. "Pengembangan wisata sekarang ini ditekankan bagaimana kita bisa menggali potensi dan kearifan lokal di wilayah yang dikunjungi, ataupun pesona keindahan alam yang ada. Sehingga pengguna internet di bangsa-bangsa lain turut bisa menikmati dan mempelajari budaya dan kearifan lokal yang ada," ujar dia. Farid Zamroni menambahkan bahwa dalam membuat konten dan menilai hasil karya orang lain, para pengguna internet harus memahami betapa pentingnya beretika digital. Misalnya, hati-hati dalam berkomentar, membangun feedback yang saling menginspirasi, hingga memberi kredit suatu karya. "Permasalahan yang kerap muncul dan dikeluhkan kreator konten adalah bagaimana dia sering kurang diapresiasi oleh netizen atas hasil karyanya, seperti pembajakan," imbuhnya.

Addiction.id-Jakarta Hadirnya internet mempermudah Indonesia mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata ke dunia. Di saat yang bersamaan, promosi ini juga memberi wawasan baru kepada para pengguna internet. Berangkat dari hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi untuk membesut program Indonesia Makin Cakap Digital di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (30/6).

Digelar secara virtual, program itu dibesut berdasarkan empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Hingga 2024, program ini diharapkan bisa membuat 50 juta orang mendapat literasi digital.

GNLD itu diharapkan mampu mendorong masyarakat agar cerdas, positif, kreatif, dan produktif dalam menggunakan internet. Pun diharapkan bisa membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet di era industri 4.0. Adapun program ini secara khurus ditujukan untuk para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya.

Kali ini, acara dengan format seminar daring itu mengangkat tema “Jadi Penjelajah Wisata Bangga Budaya Indonesia”. Ada sejumlah narasumber yang diundang sebagai pembicara, antara lain CEO Hycom Komunikasi Habibi Yukezain, Komunitas Cianjur Creative Network, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Gandi Sucipto, dan Presidium Mafindo Farid Zamroni.

Pada kesempatan itu, Habibi mengatakan bahwa di negara-negara di Eropa, sekitar 90% jenis pekerjaan mewajibkan pekerjanya punya kompetensi digital. Maka dari itu, menurutnya, masyarakat Indonesia juga mesti mampu meningkatkan kapasitas digitalnya, entah belajar secara mandiri atau mengikuti pelatihan khusus.

Adapun, lanjut dia, sejumlah keahlian digital yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini antara lain web developer, data specialist, analis business intelligence (BI), cloud architect, hingga arsitek artificial intelligence (AI). “Ribuan pekerjaan juga banyak yang tercipta dengan perkembangan dunia digital, seperti marketing specialist, traffic manager, dan copywriter. Pekerjaan itu memang yang dibutuhkan perusahaan. Namun selain profesi, banyak juga jenis usaha yang berkembang di dunia digital saat ini,” sambung Habibi.

Perihal budaya di dunia digital, Gandi Sucipto menuturkan bahwa perkembangan teknologi digital mestinya bisa dimanfaatkan untuk memajukan destinasi wisata, Misanya lewat pengenalan budaya dan kekayaan alam di Indonesia.

“Pengembangan wisata sekarang ini ditekankan bagaimana kita bisa menggali potensi dan kearifan lokal di wilayah yang dikunjungi, ataupun pesona keindahan alam yang ada. Sehingga pengguna internet di bangsa-bangsa lain turut bisa menikmati dan mempelajari budaya dan kearifan lokal yang ada,” ujar dia.

Farid Zamroni menambahkan bahwa dalam membuat konten dan menilai hasil karya orang lain, para pengguna internet harus memahami betapa pentingnya beretika digital. Misalnya, hati-hati dalam berkomentar, membangun feedback yang saling menginspirasi, hingga memberi kredit suatu karya.

“Permasalahan yang kerap muncul dan dikeluhkan kreator konten adalah bagaimana dia sering kurang diapresiasi oleh netizen atas hasil karyanya, seperti pembajakan,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :