2022 Menjadi Momen untuk Iklan Otomatis

Oleh: Kepala Pemasaran Global Smartly.io Riikka Söderlund

Addiction.id-Jakarta Media sosial berubah begitu cepat. Berdasarkan survei tahunan kami terhadap direksi marketing terkemuka, didapati bahwa tahun 2022 menjadi lanskap periklanan sosial atau social advertising yang paling menarik dan paling menantang.

Konsumen online saat ini mencari dan membeli produk baru dalam jumlah tinggi—dan ini menjadi rekor baru. Bersamaan dengan itu, sejatinya para konsumen ini berbelanja di situasi yang tak pasti, sulit, dan kompleks untuk dipandu oleh pemasar mana pun.

Adapun para pengiklan tahun ini harus beradaptasi dengan berbagai platform sosial, format konten, dan talent yang terus berubah. Sebab apa yang berhasil di 2021, mungkin tidak lagi demikian di 2022.

Social advertiser, dengan kata lain, harus cari akal dan ini dimulai dengan menemukan cara kerja yang baru. Pasalnya, ketika media sosial berubah, demikian juga strategi social advertising. Beginilah pandangan para direksi marketing ketika memprediksi masa mendatang, dan lalu didapati bahwa ada tiga tren utama yang akan menentukan social advertising pada 2022.

Munculnya iklan multi-platform

Perubahan besar pertama tahun ini ialah munculnya iklan multi-platform. Hampir semua responden survei kami mengatakan bahwa mereka mendiversifikasi cara menyebarkan promosi dengan membayar “ads on” di platform.

Munculnya TikTok ialah perubahan yang paling menonjol. Nyaris sebagian dari responden mengaku sudah beriklan di platform tersebut . Selain itu, didapati bahwa semakin banyak pihak marketing yang mengatakan bahwa mereka juga meningkatkan anggaran iklan di berbagai platform lain, termasuk Instagram, Facebook, dan YouTube.

Apa yang ditemukan oleh brand adalah, ketika pola belanja konsumen semakin kompleks, beriklan di platform media sosial sangatlah penting untuk menjangkau konsumen di semua titik.

Hal tersebut juga tercermin dalam format konten sosial yang lebih luas, yang kini ditangani pengiklan. Sebanyak 47% responden mengatakan, misalnya, bahwa mereka berencana untuk meningkatkan penggunaan materi iklan yang gerak—misalnya, animasi dan video—pada 2022 ini.

Perebutan bakat

Tren kedua dalam industri ini ialah terbatasnya jumlah orang yang berbagak di ranah social advertising. Karena semakin banyak brand yang memprioritaskan iklan media sosial, persaingan untuk mendapat karyawan yang terampil semakin ketat. Ditambah dengan terjadinya Great Resignation—yakni ketika angka para karawan yang meninggalkan perusahaan mereka mencapai rekor tertinggi, yang terjadi di Amerika Serikat (AS), sehingga tak ada cukup tangan untuk menjalankan semua kampanye sosial dengan benar.

Selain itu, 73% responden mengatakan bahwa pembuatan dan penyampaian iklan media sosial mereka melibatkan proses manual yang memakan waktu. Karena jumlah platform sosial dan format konten yang ditargetkan meningkat, pengiklan cenderung kesulitan mem-follow up.

Memang, 36% responden mengakui kurangnya bakat dan 33% menyebutkan kesulitan menjalankan kampanye di berbagai saluran sosial sebagai tantangan internal terbesar mereka untuk proses periklanan media sosial tahun 2022. Jelas bahwa brand haru memikirkan kembali kemampuan internal mereka, atau malah gagal.

Penguatan otomatisasi

Tren yang ketiga, dan yang tak bisa disangkal ialah iklan akan hadir dalam bentuk otomatisasi—yang merupakan  respons terhadap situasi saat ini. Munculnya iklan multi-platform dan perebutan bakat mengindikasikan bahwa permintaan dan penggunaan alat otomatisasi social advertising menjadi kian besar.

Teknologi sekarang bisa merampingkan proses manual yang memakan waktu dan membuat pekerjaan sebelumnya jadi lebih mudah.

Dengan sistem otomatisasi yang kuat seperti platform Smartly.io, pengiklan bisa dengan mudah mengawasi kampanye multiplatform dan melacak perjalanan konsumen di seluruh sosial—semuanya di satu tempat. Mereka dapat memperoleh pandangan yang lebih holistik tentang kampanye sosial dan memahami bagaimana bagian-bagian yang berbeda bersatu untuk mendorong hasil yang semakin besar.

Memang, dengan teknologi, pengiklan bisa melakukan lebih banyak hal dengan mudah. Bukan hanya mengotomatisasi proses penyampaian pesan, tetapi juga materi iklan di media sosial. Kampanye global bisa dibuat dan diskalakan hanya dengan beberapa klik, sehingga jadi punya lebih banyak waktu untuk perencanaan strategis.

Perusahaan yang mengadopsi otomatisasi ini akan bergabung dengan 70 pengiklan teratas yang sudah mengadopsi otomatisasi, dan bisa menuai keuntungan besar dari investasi yang jauh lebih kecil. Brand-brand ini tak perlu khawatir tentang perebutan bakat atau iklan media sosial, sebab cara kerja otomatis mereka telah mengubah perubahan industri ini menjadi kekuatan dan menciptakan keunggulan dari pesaing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :