Pekerja Teks Komersial Perlu Kuasai Kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Direktur Utama Narabahasa Ivan Lanin

Addiction.id-Jakarta Direktur Utama Narabahasa Ivan Lanin menyampaikan, pekerja teks komersial seperti penulis wara atau copywriter perlu menguasai penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menurutnya, penguasaan bahasa itu akan bisa menciptakan bahasa yang bisa mempengaruhi orang lain.

“Intinya gunakan kekuatan bahasa untuk menciptakan bahasa indah yang kemudian dimanfaatkan supaya menarik orang membeli produk kita,” ujar Ivan dalam Master Class yang digelar Citra Pariwara 34, Kamis, 2 Desember 2021.

Ivan menjelaskan, bahasa memiliki tiga fungsi yakni sebagai alat ekspresi, alat komunikasi, dan alat sosial. Adapun bahasa sebagai alat ekspresi yakni menyampaikan perasaan atau emosi. Kedua, bahasa sebagai alat komunikasi misalnya menyampaikan sebuah produk.

“Terakhir fungsi sosial, misalnya kampanye sesuatu produk, jadi bahasa itu bukan hanya soal logika tapi juga emosi dan perasaan seseorang untuk bisa menarik mereka dengan apa yang kita jual,” ujar Ivan.

Di samping itu, Ivan menyampaikan ada enam laras bahasa yakni laras sastra, kreatif, jurnalistik, bisnis, ilmiah, dan hukum. Menurut Ivan, keenam laras itu menggunakan bahasa sesuai kekhasan masing-masing.

“Namun, kelenturan bahasa bukan menjadi alasan kita tidak belajar soal ejaan bahasa. Misal Pak Joko Pinurbo, dari bahasa standar yang baku itu, beliau membuat bahasa lentur supaya yang menarik,” ujar Ivan.

Terkait ciri khas laras kreatif, Ivan menyampaikan, paragraf cenderung pendek, pemilihan kata cenderung santai tergantung audiens, dan membuat ejaan yang mengesankan.

Untuk bisa mewujudkan hal itu, Ivan menyampaikan, pekerja teks komersial harus memahami kaidah bahasa. Kaidah yang dimaksud Ivan ada empat yakni wacana dan paragraf, kalimat, kata, dan bunyi atau ejaan.

“Dalam keputusan membuat sebuah iklan pada dasarnya kita menyusun wacana. Dan proses penulisan wacana itu harus berdasarkan pada ide yang kreatif. Bagian yang dipakai otak kanan. Nah dalam wacana, hal pertama kita tentukan tujuanya apa, berangkat dari ide apa, curahan pikiran kita, audiens kita, kemudian manfaat,” ujarnya.

Setelah mendapat ide, perlu mencari bahan tambahan yang bisa berasal dari buku, percakapan, atau pendapat. Lalu melakukan penyusunan struktur cerita atau tulisan yang terdiri dari pembuka, isi, dan penutup. “Cerita misalnya ada latar belakangnya, tiba-tiba ada konflik yang merarik, kemudian ada resolusi,” katanya.

“Nah penyusunan struktur cerita ini sama saja yang dilakukan orang iklan. Kalau orang iklan biasanya menyusun diawali dengan menentukan, tajuk (headline) yang berguna menarik perhatian, badan wara (body copy) menyampaikan pesan utama, dan ajakan bertindak (call to action). Nah itu juga menggambarkan sebuah struktur. Dalam bentuk tulisan apapun, strukturnya akan sama, seperti laporan hukum sama juga. Namun yang membedakan soal menentukan gaya bahasa,” lanjutnya.

Terkait kalimat, Ivan menyampaikan, pekerja teks komersial perlu memperhatikan tata bahasa Indonesia seperti memperhatikan Subjek, Predikat, Objek, Keterangan (SPOK). Menurut Ivan, menggunakan tata bahasa ini tidak hanya dilakukan dalam laras ilmiah saja, laras sastra maupun kreatif menggunakan hal itu.

“Kemudian penggunaan bahasa, bukan hanya sastrawan, orang iklan juga perlu menguasai gaya bahasa termasuk seperti gaya bahasa Asindeto dan Hiperbola. Termasuk pemilihan kata juga penting untuk mencari ketepatan makna, keserasian kalimat, dan kecermatan bentuk. Ketiga cara ini tetap diperlukan oleh pekerja teks komersial meskipun menggunakan kata untuk audiens tapi perlu dipahami supaya bisa melenturkan kata dengan baik,” pungkasnya.

(HY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :