Inggra Parandaru: Data Perlu Diolah Akurat Agar Pesan Tersampaikan dengan Baik

Information Specialist Kompas Inggra Parandaru

Addiction.id-Jakarta Information Specialist Kompas Inggra Parandaru menyampaikan, di era informasi digital ini, data perlu diolah dengan akurat sehingga pesan tersampaikan dengan baik ke audiens.

“Terlebih di masa ini, WHO bilang, selain bahaya COVID-19, kita harus menghadapi bahaya banjir informasi atau infodemic. Banjir informasi ini sangat berbahaya karena bisa membuat banyak orang nggak percaya COVID-19,” ujar Inggra dalam Master Class yang digelar Citra Pariwara 34 pada Kamis, 2 Desember 2021.

Menurut Inggra, banjir informasi itu bisa berdampak buruk bagi pikiran dan tingkah laku masyarakat. Lantaran, masyarakat akan kesulitan untuk mencari informasi yang benar di tengah maraknya hoaks.

“Berdasarkan data Kompas pada pertengahan 2020, banyak salah informasi, banyak hoaks seperti mempertanyakan efektivitas vaksin, dan lain-lain. Bahkan, di awal-awal juga Covid-19 dianggap sebagai penyakit seperti zombie,” kata Inggra.

Untuk menghindari sekaligus menangkal hal itu, agen periklanan yang kerap menyampaikan informasi kepada masyarakat perlu memilki kemampuan mengelola data yang baik.

Data, bagi Inggra, merupakan fakta yang belum diolah. Ketika sudah diolah, fakta itu akan menjadi data. Data-data yang ada itu kemudian akan disaring menjadi sebuah informasi. Lantas, informasi itu diolah lagi menjadi sebuah pengetahuan.

Inggra melanjutkan bahwa ada dua sumber data, yakni sumber primer dan sekunder. Sumber primer yakni data yang diperoleh secara langsung seperti bertemu dengan narasumber utama. Sedangkan, data sekunder adalah data pendukung seperti arsip, buku-buku, dan website resmi pemerintah.

Inggra juga menjelaskan jenis-jenis data menarik yang bisa diolah. Pertama, data ekstrim seperti data angka putus sekolah dan data kemiskinan. Kedua, data perbandingan seperti membandingkan penanganan COVID-19 di kota A dan kota B. Ketiga, data tren seperti data 10 tahun perkembangan periklanan di Indonesia. Keempat, data soal rangking dan terakhir, data soal kronologi.

“Data-data itu kemudian harus disampaikan dengan baik, informasinya harus jelas dan dengan gaya story telling,” ujarnya,

Lebih lanut, Inggra memberi tips menyampaikan data dengan gaya story telling. Pertama, mulai dari menemukan masalah dengan cara bertanya dan berpikir kritis. “Kedua, kenali audiens Anda. Untuk peneliti atau akademisi, buatlah diagram. Nah untuk anak muda buatlah yang simpel dan menyenangkan,” ujarnya.

“Ketiga, berceritalah, orang tidak akan ingat angka, tapi ingat cerita, misal soal data pandemi, kalau angka tidak akan ingat, tapi soal cerita pandeminya akan ingat. Keempat, jelaskan secara visual dan narasikan kata-kata. Kelima berikan kesimpulan yang jelas,” lanjutnya.

Inggra pun menyarankan beberapa hal untuk menghindari penulisan data yang tidak menarik. Pertama, tidak menambah informasi yang tidak relevan dan menuliskan ulang data ke bentuk narasi. “Jangan terlalu banyak data, tidak relevan dengan isi dan tidak ada prioritas. Lalu, pemilihan font asal, tidak sesuai dengan isi data,” kata Inggra,

Menurut Inggra, pihak agen periklanan harus mulai melirik data sebagai alternatif cara untuk mendekati masyarakat. Sebab, di era digital informasi ini, data menjadi salah satu unsur yang penting untuk meyakinkan masyarakat.

(HY)

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :