Jimmy Lam, Tokoh Legendaris yang Dorong Kualitas Periklanan Asia Termasuk Indonesia

Jimmy Lam, Presiden ADFEST (2005-2021)

Addiction.id-Jakarta Industri periklanan Asia Pasifik baru saja kehilangan Jimmy Lam, salah satu sosok legendaris di industri. Pria asal Hong Kong ini berpulang pada Minggu, 30 Oktober 2021.

Kiprah dan reputasi Jimmy Lam di industri periklanan selama ini telah diakui secara luas tak cuma di Asia Pasifik, tetapi juga di ranah global. Satu di antaranya yang paling besar ialah pendirian ADFEST di tahun 1998, yang hingga kini masih terus digelar secara tahunan. ADFEST sendiri merupakan ajang penghargaan periklanan se-Asia Pasifik.

Khusus Indonesia, kontribusi Jimmy Lam barang tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Menurut keterangan Irfan Ramli, Ketua Dewan Penasihat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) DKI Jaya, pria ini turut mendorong kemajuan industri periklanan di Tanah Air. 

Irfan menuturkan bahwa hingga pertengahan 2000, Indonesia tak pernah terlibat sebagai juri di ADFEST. Padahal ajang ini merupakan ajang se-Asia Pasifik, di mana Indonesia merupakan salah satu bagiannya. Oleh karenanya, ia yang pada saat itu merupakan Sekjen P3I Pusat, dan Narga S. Habib selaku Ketua P3I Pusat, berupaya melobi Jimmy Lam, Si Presiden ADFEST.

“Kalau nggak salah itu 2005, saya dan Narga ikut ke Pattaya untuk melobi Jimmy Lam supaya Indonesia bisa menjadi juri di ADFEST. Kami dikenalkan ke beliau oleh Pak Indra Abidin (alm.). Beliau ini termasuk tokoh pendiri P3I juga, yang juga terlibat dengan pendirian ADFEST,” kenang Irfan (7/11). “Kami tanya kenapa Indonesia susah sekali jadi juri?”

Ia menambahkan, hadirnya Indonesia menjadi juri ini penting karena ADFEST merupakan satu-satunya ajang penghargaan periklanan se-regional pada saat itu. Adapun ajang ini bakal menunjukkan bagaimana kualitas industri periklanan Indonesia.

“Tapi Jimmy bilang bahwa Indonesia saat itu belum dapat banyak metal, jadi rasanya nggak fair kalau memberi kesempatan untuk menjadi juri,” lanjutnya. “Waktu itu ya, kalau pun Indonesia sudah pernah menang, jumlah metalnya masih kecil sekali.”

Meski begitu, lanjut Irfan, Jimmy pada akhirnya memberi kesempatan pada Indonesia untuk menjadi juri di tahun-tahun mendatang. Syaratnya, Indonesia harus meningkatkan standard periklanannya sehingga bisa menang di ADFEST dan bisa juga ditunjuk jadi juri.

“Dia kasih kisi-kisinya. Dari situ, Citra Pariwara, sebagai ajang penghargaan periklanan se-nasional, mulai mengubah dan memperbaiki standardnya di 2006. Ada banyak hal yang berubah. Salah satu yang paling signifikan itu sistem poin, ini ikut dengan ADFEST. Jadi dihitung gold-nya berapa, silver-nya berapa, bronze-nya berapa. Sebelumnya, nggak ada sistem poin,” terangnya.

Ia menambahkan, bahkan Jimmy bersedia hadir mengisi seminar di Citra Pariwara 2008. “Dia bawa tema ‘Who is Hot, Who is Not’. Dia paparkan siapa saja yang ‘hot’ kreatifnya dan cara-caranya,” kata Irfan. “Itu sangat membuka mata Indonesia. Nggak lama setelah itu, kompetisi di industri periklanan semakin menggeliat. Terus terang, hasilnya sangat bagus. Sekitar 2007 dan 2008 ke atas, Indonesia sudah bisa rutin mendapat metal, bahkan bisa mendapat gold beberapa kali.”

Irfan melanjutkan bahwa di 2008, pertama kalinya Indonesia bisa menjadi juri di ADFEST.” Semenjak itu, hampir tiap tahun Indonesia dapat jatah juri dalam acara tahunan ADFEST ini.

Selain itu, di tahun yang sama, Jimmy Lam juga membolehkan Indonesia mengirimkan mahasiswa untuk ikut mengikuti di ADFEST dengan bebas biaya. “Meski nggak ikut kompetisi, tapi paling nggak, mereka bisa belajar dengan melihat karya-karya di ADFEST. Ini tindakan yang baik sekali dari Jimmy Lam yang membantu kita,” imbuh dia.

Seiring berjalannya waktu, tampaknya kualitas industri periklanan di Indonesia telah diakui secara internasional, termasuk se-Asia Pasifik. Terbukti, di ADFEST 2022 mendatang, Indonesia bahkan kedapatan menjadi Chairman Steering Committee, dengan Andi Sadha sebagai perwakilannya.

“Ini merupakan suatu kehormatan bagi Indonesia, karena keterlibatan kita sebagai pendukung ADFEST sudah dimulai sejak awal terselenggaranya ADFEST. Ini juga merupakan penghargaan bagi senior-senior kita di industri periklanan, terutama bagi Almarhum Pak Indra Abidin, yang tidak kenal lelah untuk mempromosikan Indonesia sebagai a force in advertising to be reckoned with,” tutur dia, Jumat (12/11). 

Menurut Andi, Jimmy Lam menjadi salah satu pendukung besar Citra Pariwara sebagai showcase karya periklanan terbaik Indonesia yang bisa bersaing di tingkat Asia maupun global.

“Jimmy tidak ragu untuk terbang ke Indonesia untuk hadir dan berbagi di seminar Citra Pariwara tentang kreativitas,” tambahnya.

Pendirian ADFEST

Tentunya kontribusi Jimmy Lam bagi kemajuan periklanan Indonesia tak terlepas dari kehadiran ADFEST itu sendiri.

Vinit Suraphongchai, salah satu Pendiri dan Presiden ADFEST, menjelaskan bahwa sebelum ADFEST hadir, periklanan di Asia tampak primitif—mungkin kecuali Jepang. “Karya-karya tersebut, baik yang ber-budget rendah atau berkualitas rendah, sebagian besar merupakan salinan dari karya Orang Putih—entah teknik, gaya dan budaya mereka. Semuanya,” ujarnya melalui email (17/11)

Padahal, lanjut Vinit, Asia yang terdiri dari berbagai negara itu punya nilai sejarah dan buday yang unik. “Kalau kita tidak melindungi dan memanfaatkannya melalui komunikasi kita, kita mungkin kehilangannya!” pungkasnya.

Berangkat dari itu, ia yang sempat menjadi juri di Cannes pada 1994 bersama Jimmy Lam, punya ide untuk membuat ajang dengan struktur yang serupa dengan Cannes namun khusus untuk wilayah se-Asia Pasifik, yaitu ADFEST.

Melalui keterangan tertulisnya, Vinit menjelaskan bahwa kehadiran ADFEST sendiri ditujukan untuk mempromosikan dan meningkatkan standard kreativitas periklanan di regional. Selain itu, untuk mendorong penggunaan tradisi dan budaya sendiri dalam proses komunikasi.

Bukan hanya itu, ADFEST juga diperuntukkan sebagai wadah bagi semua periklanan untuk bertemu, berteman, berbagi dan bertukar ide, dan sebagainya. Bahkan untuk memberi kesempatan untuk bersantai, merenung dan menyegarkan selama beberapa hari—semacam liburan kerja. Terakhir, ADFEST menjadi organisasi nirlaba dan menjaga biaya tetap rendah agar sesuai dengan kondisi ekonomi daerah.

“Saya memulai ide dan visi ADFEST… Saya berbicara dan meyakinkan Jimmy untuk menjadi mitra dalam hal ini. Begitulah kami memulai,” kata Vinit. “Karena saya adalah penggagas konsep ADFEST, saya terkadang dianggap sebagai arsitek ajang tersebut. Namun, dalam hal ini, saya tidak ‘memalu paku’. Di lain sisi, Jimmy-lah yang melakukan banyak hal, dialah orang yang ‘memalu paku’—yang membangunnya.”

Ia mengatakan pada mulanya mereka tak memahami bagaimana mengorganisasi acara besar seperti ADFEST. “Namun, Jimmy benar-benar mengembangkannya. Ia selalu belajar dan mengembangkan ADFEST, bahkan bisa menjadikannya acara yang terkenal dan disegani di wilayah ini saat ini. Dengan kata lain, ketika ADFEST membentuk dia, dia juga membentuk ADFEST—sebuah simbiosis yang sempurna,” tutur Vinit.

Lebih lanjut, Vinit mengatakan bahwa kepergian Jimmy adalah kehilangan besar bagi ADFEST. Meski demikian, lanjutnya, Jimmy telah membimbing tim dengan baik selama bertahun-tahun sehingga memungkinkan mereka mengelola acara di masa mendatang.

“Ke depannya, ADFEST akan membutuhkan seseorang seperti dia, dan ini mungkin tak mudah. Tapi itulah hidup, tidak ada yang abadi,” kata dia.

Selamat jalan, Jimmy Lam…

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :