Ini Kata BPOM Soal Iklan Obat Tradisional

Ini Kata BPOM Soal Iklan Obat Tradisional

Addiction.id-Jakarta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan bahwa iklan obat tradisional seharusnya objektif sehingga tak menyesatkan konsumen. Adapun klaim iklan yang ditayangkan di media harus disesuaikan dengan wawasan masyarakat.

“Jadi, kira-kira gejala apa yang bisa didiagnosa sendiri untuk self medication itu yang diperbolehkan,” ujar Dwiana Andayani, Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, di seminar daring pada Selasa (14/9).

Ia menambahkan, hal itu mengingat sebagian besar obat tradisional dan suplemen kesehatan untuk keperluan pengobatan sendiri. Berangkat dari hal ini, klaim iklan juga harus disesuaikan dengan wawasan masyarakat awam dalam menilai gejala yang mereka rasakan. Untuk itu, informasi yang disampaikan harus lengkap, obyektif, dan tak menyesatkan.

Selain itu, iklan juga tak boleh memanfaatkan kekhawatiran masyarakat pada suatu masalah kesehatan. Pasalnya, ada kemungkinan iklan memunculkan persepsi yang membikin masyarakat menggunakan obat secara berlebihan dan tak benar, yang berujung pada bahaya. Misalnya di masa pandemi COVID-19 ini.

Di masa pandemi ini, BPOM tak membolehkan klaim obat yang menjanjikan penyembuhan COVID-19. Pun tak membolehkan produsen memasukkan testimoni dalam klaim mereka lantaram sangat subjektif dan bias.

Dwiana mengatakan bahwa hingga kini belum ada produk obat tradisional dan suplemen yang memberi efek berarti pada COVID-19. “Tidak diperbolehkan mengaitkan (obat) dengan penggunaan untuk COVID-19 selama tak ada bukti klinis yang mendukung,” pungkasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa iklan obat perlu mendapat persetujuan dari BPOM untuk menandakan informasi dalam iklan itu sudah valid, akurat, dan objektif. Sehingga konsumen bisa percaya informasi tersebut benar dan tak menyesatkan.

“Bila iklan tidak melalui persetujuan Badan POM dulu, bagian pengawasan akan menarik iklan dan memberikan sanksi pada pelaku usaha,” imbuh Dwiana. Untuk diketahui, dalam hal ini, BPOM berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk melakukan pengawasan iklan, mengingat ada banyak media yang digunakan produsen.

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :