Bagaimana Cara Beriklan Tanpa Cookie?

Bagaimana Caranya Beriklan Tanpa Cookie?

Oleh: Jason Kalin, Chief Business Officer di Nativo

Addiction.id Kita semua tahu bahwa cookie akan dihapuskan. Saat ini, banyak pihak yang mencari tahu pengganti. Berbagai spekulasi muncul setiap harinya, memprediksi kira-kira seperti apa lanskap industri setelah cookie dihapuskan. Mencari tahu hal ini begitu penting. Adapun bagi para insan periklanan—yang telah melihat perubahan yang begitu besar dalam periklanan digital, punya pertanyaan yang jauh lebih besar: apa yang terjadi bila mengidentifikasi pengguna benar-benar terlarang bagi teknologi periklanan (adtech)?

Jason Kalin, Chief Business Officer di Nativo

Kami akan selalu memiliki IP, tapi…

Penyembunyian IP—meski masih berkembang sebagai tren masa pertumbuhan sebagai tren, tampaknya terimbas pemblokiran iklan sejak beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya masalah keamanan dan privasi, konsumen jadi menutupi IP mereka. Akibatnya, terjadi peningkatan penggunaan VPN hingga 27% pada 2020, dan diperkirakan akan meningkat empat kali lipat pada 2027.

iOS terbaru akan menutupi IP secara default, dan berbagai undang-undang privasi data menyarankan IP untuk dilindung—mengingat ini adalah pengidentifikasi pribadi. Artinya, alamat IP tak lagi menjadi  pilihan yang layak untuk pengumpulan dan analisis data pengguna dalam skala besar.

Saat ini banyak model penargetan deterministik dan probabilistik yang bergantung pada alamat IP, seperti CTV adtech terbaru. Sejumlah media iklan terbaru bahkan hanya benar-benar mengandalkan. Bagi mereka, pemblokiran IP mungkin menjadi kejutan yang tak menyenangkan.

Kembali relevan

Adtech sering kali ingin menghadirkan seni dan kecanggihan dalam periklanan—terlepas dari hal-hal lainnya. Ini bukan sekadar mimpi. Pasalnya, ada kepercayaan yang berkembang—yang didukung oleh pekembangan masyarakat yang semakin digital native, bahwa kualitas pemasaran online jauh lebih baik dari kuantitas. Selain itu, tanpa pengenal (seperti IP) untuk mengategorikan audiens atau memilih demograsi tertentu, ke depannya jauh lebih masuk akal jika pemasar berfokus pada nilai dan relevansi.

Orang-orang mengumpulkan dan melihat iklan dari masa lalu. Namun, saat ini, orang-orang bisa membayangkan tweet Oreo Super Bowl bisa menjadi NFT berikutnya yang bisa dilelang. Atau, mungkin konten bersponsor, seperti kolaborasi Balvenie dengan Anthony Bourdain, akan dianggap sebagai film dokumenter klasik.

Kesamaan dari mereka ialah mereka bukan dirancang untuk menjadi spanduk mengganggu yang terpampang di seluruh web, melainkan dirancang agar sesuai dengan konteks tertentu, pada waktu tertentu, dan untuk kelompok konsumen tertentu.

Konteks adalah raja

Relevansi dan pengetahuan tentang pelanggan (yang merupakan data penting pihak pertama) yang akan menggantikan, yang saat ini disebut, “penargetan” dan “kemampuan beralamat”. Ini akan menjadi kendaraan yang bisa memperbaiki diri sendiri—sebuah langkah untuk menggantikan penargetan, dan beralih memprioritaskan kebutuhan dan minat konsumen.

Sekali lagi, tujuan periklanan ialah menghasilkan konten berkualitas yang menghibur dan mendidik. Contohnya, iklan Mayhem Allstate mungkin cenderung lebih banyak mengajari tentang asuransi, sambil tetap lucu, dan tanpa menargetkan audiens secara spesifik.

Merangkul perubahan dan menangkap peluang

Bagaimana persiapan kita sebagai platform adtech, pengiklan, atau penerbit? Mulailah dengan memvisualisasi web tanpa iklan bertarget pihak ketiga.

Format iklan yang kinerjanya buruk atau tak lagi gunakan akan digantikan. Sementara, pengalaman pengguna akan tetap sama, artinya format iklan terintegrasi yang relevan dan kontekstual akan menjadi semakin dipilih.

Adapun penerbit bisa merebut kembali kekuasaan dengan memprioritaskan konten dan pengalaman yang diinginkan oleh audiens. Pengiklan dan penerbit bisa bermitra untuk membuat konten menarik, yang bisa membuat konsumen lupa bahwa mereka sedang melihat iklan. Terakhir, adtech bisa memanfaatkan peluang untuk menyediakan koneksi, alat, dan ekosistem yang memungkinkan penerbit dan pengiklan melakukan semua itu.

Penargetkan pihak pertama menjadi kuncinya. Penerbit harus menjadi mitra tepercaya yang layak menerima data pembaca, dengan imbalan konten yang mendidik, informatif, dan memiliki tujuan. Lebih dari sebelumnya, kepercayaan ini sangat penting untuk tidak dilanggar.

Dibutuhkan upaya yang seimbang dari sisi teknologi, pengiklan, dan penerbit untuk membuat web yang lebih baik dalam memanfaatkan peluang ini. Namun, pertama-tama, terimalah perubahan yang begitu mendasar ini. Adapun hal ini menjadi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Jika Kamu seorang ahli adtech, pengiklan, atau penerbit, inilah saatnya untuk berpikir lebih jauh untuk melampaui akhir dari cooki. Karena, apa yang terjadi selanjutnya lebih penting dan menawarkan peluang yang lebih besar dalam memberikan nilai dan hasil yang bertahan lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :