Konsumen di Indonesia Bersedia Tonton Iklan Demi Konten Gratis

Konsumen di Indonesia Bersedia Tonton Iklan Demi Konten Gratis

Addiction.id-Jakarta Lebih dari sebagian konsumen di Indonesia, tepatnya 67%, lebih memilih menonton iklan demi mendapat konten gratis, ketimbang harus membayar untuk akses tanpa iklan. Selain itu, didapati pula bahwa 59% konsumen bersedia membagikan informasi terkait minat mereka—yang menjadi patokan untuk menargetkan iklan yang relevan.

Hal ini sebagaimana hasil riset dari The Trade Desk dan YouGov baru-baru ini. Temuan itu tentu merupakan berita yang baik bagi tau pemasar.

Data itu juga menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya iklan untuk mendukung konten gratis. Didapati bahwa 73% konsumen menyadari pentingnya hal ini. Kemudian sejalan dengan kesediaan berbagai informasi tentang minatnya, 52% konsumen lebih menyukai iklan yang relevan saat menjelajahi konten.

Untuk diketahui, riset tersebut dilakukan pada Maret 2021 lalu di sembilan negara. Khusus konsumen Indonesia, diwakili oleh 2.135 responden berusia 18 tahun ke atas.

“Masyarakat di Indonesia menunjukkan keinginan yang kuat untuk berbagi informasi dan data mereka untuk mendapat iklan yang relevan. Bagi pemasar yang ingin terhubung dengan audiens berkualitas dalam skala besar, bisa beriklan di internet dan menawarkan konten yang bermakna bagi konsumen,” ujar Florencia Eka, Country Manager The Trade Desk di Indonesia.

“Sering kali konsumen terpapar dengan iklan yang sama dan diulang berkali-kali, bahkan tak jarang konsumen terpapar iklan yang tak relevan. The Trade Desk bisa membantu pemasar mengelola frekuensi iklan di dalam setiap kampanye untuk menjangkau audiens yang relevan, serta menjangkau lintas platform dan lintas perangkat pada internet terbuka. Kami ingin membantu brand terhubung dengan target audiens mereka di seluruh platform digital dengan lebih bermakna,” sambungnya.

The Trade Desk juga meyakini bahwa iklan yang relevan tak hanya bisa menguntungkan bagi pemasar, tetapi juga menguntungkan bagi penerbit atau penayang—mengingat penayang bisa memonetisasi konten yang ditayangkan. Uang yang didapat itu kemudian bisa digunakan untuk menghasilkan konten lain.

Berangkat dari hasil risetnya, The Trade Desk mengatakan dirinya telah merancang Unified ID 2.0 sebagai solusi dari sudut pandang konsumen yang akan menggantikan cookie—yang tak akan lagi didukung Google mulai 2023 mendatang. Selain itu, perusahaan periklanan digital ini juga mengatakan bahwa Unified ID 2.0 juga mengutamakan privasi dan kontrol bagi konsumen.

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :