Triwibawa “Cimot” Santosa: Ilustrator, Creative Director, Penebar Rasa Aman

Triwibawa Cimot Santosa Ilustrator, Creative Director, Penebar Rasa Aman

Addiction.id-Jakarta “Dalam kondisi apapun dia selalu tersenyum, kendati kondisi yang dia hadapi penuh dengan kemelut. Dia punya kecerdasan emosi yang baik, sangat stabil.”

Selarik kalimat itu diucapkan Yoga Adhitrisna, pendiri Berakar Komunikasi, kala mengenang Triwibawa Santosa, pria penuh gairah kreatif yang ia kenal sejak lama hingga kemudian Triwibawa—yang akrab dipanggil Cimot—berpulang pada Minggu, 11 Juli 2021, setelah beberapa hari dinyatakan positif COVID-19.

Cimot adalah seorang yang rendah hati, meski semua koleganya mengenal dia sebagai Creative Director yang andal dan ilustrator dengan sejuta imajinasi. Dia mengawali karier di industri periklanan pada 2001, di salah satu agensi multinasional, McCan Erickson. Di sinilah dia bertemu empat sosok yang kemudian menjadi karibnya. Pada 2008, mereka sepakat untuk membikin agensi baru, Berakar Komunikasi.

Yoga mengenang, ide membuat agensi datang dari Cimot dan salah satu teman mereka: Hari Prasetyo. “Saat itu, Cimot merasa bahwa sudah saatnya kami menjadi tim independen, punya agensi sendiri, membesarkan nama sendiri,” tutur Yoga.

Bukan pilihan mudah meninggalkan agensi asing dengan nama besar. Tapi Cimot sangat meyakinkan. Yoga menuturkan, Cimot seolah mampu menularkan kepercayaan dirinya kepada semua anggota tim. Dia tak pernah mengeluh, integritasnya tinggi. “Kerjanya juga sungguh-sungguh, sehingga klien percaya kepada dia,” lanjut Yoga. “Kami, teman setimnya, seneng sama dia.”.

Menurut Yoga, ketenangan yang dimiliki Cimot acap membuat semua orang yang bekerja dengannya merasa aman. “Dia gak meledak-ledak. Gua tuh seneng kalau kerjaan dipegang Cimot, atau oleh tim yang ada Cimotnya. Suasananya pasti jadi positif,” tukas Yoga.

Pendiri Berakar Komunikasi lainnya, Ismet Fahmi, juga tak bisa menafikkan betapa tenangnya Cimot menghadapi situasi apapun. “Dia seperti anchor buat saya. Begitu tenang dan menenangkan, bahkan bisa menenangkan saya yang punya sifat berkebalikan dengan dia. Saya emosian,” kenangnya, disusul dengan tawa.

Ismet juga mengenang Cimot sebagai perupa kelas wahid. Baginya, Cimot merupakan art director dan ilustrator yang andal. “Dia paham betul tentang dunia visual. Makanya, Gua pikir, ketika Cimot pergi, yang kehilangan itu ya Indonesia. Skill dia jago banget.” tuturnya. ”Tapi dia ini humble. Baik, sangat rendah hati.”

Kehebatan Cimot dalam dunia visual memang sudah terlatih sejak lama. Bakatnya luar biasa dan dia terdidik di komunitas dan penerbitan komik Qomik Nusantara, di Institut Teknologi Bandung (ITB). Yoga menuturkan, Cimot lihai dalam menggambar atau membuat ilustrasi. Qomik Nusantara ITB adalah salah satu milestone Cimot pada kurun 1994 hingga 1996. Qomik Nusantara inilah yang membangkitkan minat orang kembali kepada komik, ketika komik di Indonesia sedang tiarap.

Setelah itu, Cimot bergabung di McCan. Saat itulah, ujar Yoga, Cimot kembali membuat milestones dengan menjadi senior art director untuk iklan produk rokok Star Mild, seri Obsesi, yang salah satunya adalah Obsesi: Sutradara. Iklan itu meledak dan dinilai sangat bagus. Selepas itu, tim yang menggarap iklan tersebut kemudian menjadi cikal bakal Berakar Komunikasi.

Hingga Cimot kemudian pamit dari Berakar Komunikasi pada 2012. Dia sempat aktif di sister company agensi ini, 100%, selama lebih dari dua tahun. Cimot kemudian memutuskan berhenti dari agensi dan pindah ke Bandung demi lebih fokus membesarkan anaknya di sana. Di kota itu ia menjadi pekerja lepas.  Ia melihat adanya peluang dari berkembangnya ekonomi kreatif di Bandung. Namun terkadang ia mengambil pekerjaan dari agensi atau langsung berurusan dengan klien. “Dia jadi sering bolak-balik Bandung-Jakarta untuk ngerjain proyek iklan,” kata Yoga.

Tak hanya di dunia periklanan, setelah memutuskan menjadi pekerja individu, Cimot juga jadi lebih produktif sebagai ilustrator, termasuk komik. Ia pernah membuat komik di kanal Comicrewyuk, di Qubicle, yang bertajuk “Senapan” dan “Jagat Alternatif”. Ia juga telah membuat begitu banyak ilustrasi—yang kini masih bisa dilihat di sejumlah akun media sosialnya, seperti Instagram, Blog, dan Behance. Beberapa bahkan sempat diunggah di Instagram Presiden Joko Widodo.

Salah satu karya Cimot yang diunggah Presiden Joko Widodo

Bukan cuma itu, Cimot juga kerap ditemui di Pasar Komik Bandung dan mengisi workshop di Wewo. “Dia pernah bikin workshop menggambar dengan anak-anak di penjara,” ujar Yoga.

Cimot memang punya jiwa sosial yang tinggi, Ismet mengatakan, Cimot itu orang yang tidak perhitungan. Dia selalu bersedia diminta bantuan mengajar atau mengisi workshop. “Dia itu love to share, willing to teach. Banyak orang yang mau belajar sama dia,” kata Ismet. Cimot selalu mau meluangkan waktunya, meski dia sangat capek.  “Itu bukan karena dia ingin jualan, atau cari honor. Dia memang punya sesuatu yang ingin disampaikan,” tutur Ismet.

Teman Cimot di Qomik Nusantara (yang kemudian berubah menjadi Qomik Nasional), Santoso atau Anto Motul, mengaku sempat punya rencana dengan Cimot. Namun, kepergian Cimot membuat rencana ini harus dibatalkan. Tadinya Motul, Cimot, dan Pidi Baiq—penulis buku laris Dylan—akan menerbitkan lagi Komixaku Molotov.

Sebelumnya, mereka bertiga memang pernah membuat dan menjual majalah komik, Komixaku Molotov, di masa krisis moneter, sekitar akhir dekade 90-an. Kala itu, komik tersebut dibuat hanya untuk mendapat uang tambahan di masa krisis. Nyatanya, penjualan komik itu sukses.

Formatnya, sesuai nama Komixaku, berupa komik saku. “Kami buat dari fotokopian dalam ukuran kecil. Bahkan kami bisa dapat iklan dari sebuah agensi di Jakarta milik teman kami,” tutur Motul.

Ia mengatakan, pandemi COVID-19 ini mengingatkan dirinya pada masa-masa sulit ketika krisis moneter. “Saya kontak Cimot dan Pidi Baiq, saya tanya ke mereka ini ‘kan masa sulit, kita-kita pun lebih banyak diam di rumah, bagaimana kalau kita terbitkan lagi saja Komixaku Molotov?” kata Motul.

Cimot dan Pidi sepakat. Mereka bertiga telah membahas rencana itu melalui grup chat. Bahkan, Cimot sudah membuat logo hingga merchandise-nya meski komiknya belum jadi, untuk sekadar memicu semangat.

Namun, rupanya Tuhan berkehendak lain. Cimot terpapar COVID-19 dan meninggal dunia. Lantas rencana untuk menerbitkan Komixaku Molotov menggantung.

“Saya dan Pidi shock dengan kepergian Cimot yang mendadak. Akhirnya saya bilang ke Pidi agar WAG (red: WhatsApp Group) Molotov ini kita bubarkan saja. Pidi sepakat. Saya cuma berharap obrolan, candaan, dan ide-ide ngaco di grup itu biar melayang ke langit, menjadi glitter warna-warni, menemani perjalanan Cimot ke surga,” tutup Motul.

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :