Dradjat Wahjoe Tjahjono, Jejak Perjalanan Gemilang di Dunia Media

Dradjat Wahjoe Tjahjono

Addiction.id-Jakarta Dradjat Wahjoe Tjahjono mungkin bisa dibilang seorang rookie di industri periklanan. Dia belum lama berkecimpung resmi di sebuah agensi, baru mulai pada tahun 2017. Tapi karya tidak hanya dihitung dengan detak waktu.

Sejak 2017, Drajat Wahjoe Tjahjono, yang biasa dipanggil Ade, menjabat sabagai Managing Director Media Impact, salah satu sister company AMP Group. Selama kurun itu, ia telah memberi yang terbaik bagi perusahaan dan industri yang baru digelutinya.

Namun, pada 5 Juli 2021, pandemi COVID-19 membawanya berpulang di usianya yang ke-59 tahun.

Yelly Caturfianti, Co-Director Media Impact mengenang Ade sebagai seorang yang baik dan memiliki pergaulan sangat luas. Kendati masih terbilang baru di industri periklanan, Ade cepat belajar. “Dia mengerti mengenai seluk beluk periklanan. Cuma, memang dia tidak di belakang meja, karena dia fokus berhubungan di luar. Dia jago entertain klien, jago menjaga hubungan,” jelas Yelly.

Salah seorang yang menggaet Ade ke industri periklanan, Farid Ganio Tjokrosoeseno, CEO AMP Group, menilai Ade punya bakat hebat dalam meyakinkan orang lain. Tapi tak hanya bakat yang ia andalkan. Dalam bekerja, Ade selalu datang dengan persiapan matang, resilient, sangat menguasai masalah. “Ia sanggup memberi solusi yang baik dan benar dalam seluruh proyek-proyek yang melibatkan dirinya,” lanjut dia.

Tak ayal, sepanjang empat tahun karir Ade di AMP group, Farid mengingat, teramat banyak keberhasilan Ade dalam memenangkan pitch, mendapat klien-klien baru, sekaligus maintain existing clients. “Ia juga tak pernah segan untuk membantu sister company lainnya di AMP Group untuk tujuan memenangkan proyek-proyek kolaborasi,” sambungnya.

Keberhasilan Ade melebur di industri periklanan tak lepas dari jejak karirnya yang sangat panjang di industri pertelevisian. Yelly menuturkan, Ade sudah puluhan tahun menjadi orang di balik layar sejumlah program sukses di televisi. Ade pernah lama bekerja di stasiun televisi RCTI, sejak awal berdiri hingga masa pensiunnya tiba, pada 2017 silam.

 “Di industri pertelevisian, dia itu salah satu pentolan station. Dia ‘kan salah satu pendiri RCTI juga—yang pada masa itu, stasiun swasta pertama yang berdiri di Indonesia,” ungkap Yelly, yang telah mengenal Ade selama 24 tahun.

“Dia juga mendidik dan membimbing orang-orang, yang sebelumnya belum apa-apa, hingga menjadi penggede station seperti sekarang. Dia membantu pengembangan stasiun televisi, dia mencarikan bagaimana mana caranya bisa beroperasi dengan baik,” lanjutnya.

Dua dekade lebih berlalu, Ade kemudian menguasai benar bisnis di dunia media bernama televisi. Ia menjadi salah satu yang terbaik di sana. Pengalamannya di televisi itulah yang menjadi modalnya untuk berkiprah di ranah media lainnya; industri periklanan.

Sebagai Managing Director Media Impact, Ade begitu luwes belajar detail industri periklanan—dan ia mampu dengan gemilang menyajikan setiap gagasan itu kepada para klien. Pengalamannya di dunia televisi membantunya dalam menjalankan pekerjaan di ranah iklan.

Di luar aktivitas pekerjaannya, Farid juga menilai Ade sebagai orang yang baik. “Ade adalah orang yang sangat ramah. Selalu datang dengan wajah tersenyum. Selalu menyapa dengan ceria. Always brought happiness into the room!” kenangnya. 

Yelly juga mengatakan hal serupa. “Mas Ade selalu baik kepada semua orang. Orang-orang di station juga mengaku demikian. Di periklanan juga, meski dia MD (red: Managing Director), dia baik sama orang bawah, baiknya bukan main. Temannya itu banyak banget, dari bawah sampe pejabat-pejabat. Dia juga penolong, kebapakkan banget,” ujarnya.

“Bagi saya, dia ini teman, rekan kerja, kakak, temen curhat, semuanya ada di dia,” pungkas dia.

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :