Tim Jahja, Kenangan Tentang Seorang Kreator Cum Entrepreneur

Tim Jahja, Kenangan tentang Seorang Kreator cum Entrepreneur

Pendiri GudangGambar Tim Jahja di paling kanan

Addiction.id-Jakarta Hidup hanya sementara, tapi kenangan kerap kali abadi. Itu mungkin yang dirasakan para pelaku industri periklanan terhadap sosok Tim Jahja. Nama ini senantiasa berada dalam ingatan kendati sudah 20 tahun lebih ia tak lagi bergelut langsung di perusahaan agensi periklanan.

Tim Jahja kemudian dikenal sebagai pemilik Galeri Seni GudangGambar. Ia seorang art creator yang juga punya kemampuan sebagai seorang entrepreneur. Pada 30 Maret 2021 silam, setelah sempat terpapar COVID-19, Tim Jahja berpulang ke haribaan Ilahi.

Duka yang teramat mendalam. Namun, Tim Jahja telah menorehkan legacy yang luar biasa. Galeri seni yang ia dirikan sejak tahun 1999 itu adalah kontribusinya terhadap perkembangan seni dan budaya di Tanah Air. Di galeri itu, pelbagai karya para seniman rupa tersajikan dengan kemasan yang penuh penghargaan.

Selama lebih dari dua dekade, GudangGambar melewati perubahan zaman. Galeri mampu terus beradaptasi, bahkan hingga memasuki era digital. Saat ini, mereka melayani pembelian lukisan melalui jalur online. Calon konsumen bisa melihat karya yang dijajakan melalui Instagram @gudanggambar sebelum membelinya.

Tim Jahja memang sosok yang brilian dan penuh dengan energi kreatif. Ia membangun Galeri Seni GudangGambar dari nol hingga berkembang seperti sekarang.

TIm Jahja, Pendiri GudangGambar

Seorang rekan Tim, Anne Ridwan, Country Director R3, mengaku sangat terkesan dengan reputasi dan sepak terjang Tim. Anne menilai Tim sangat mengerti seni dan keindahan.“ Kejelian penglihatan Tim sangat bagus dari sisi art. Dia ini berkreativitas di creative industry dengan passion-nya dia di bidang melukis,” tutur Anne.

Anne mengaku menyaksikan proses pendirian GudangGambar sejak awal. Ia melihat bagaimana Tim Jahja jatuh bangun mengembangkan galerinya. “Setelah Tim keluar dari agensi dan memulai galeri sendiri, dia mulai dari nol. Jatuh bangunnya tuh saya bisa lihat. Semangatnya juga,” lanjutnya.

Anne melanjutkan bahwa GudangGambar tak sekadar menjual lukisan. Tim punya visi lain di balik itu. “Dia ingin galerinya bisa jadi tempat berkarya bagi seluruh anak-anak bangsa. Dia ingin menelurkan pelukis-pelukis baik yang karyanya bisa di-appreciate oleh banyak masyarakat,” tutur Anne.

Berangkat dari visi itu, lanjutnya, Tim membantu pelukis-pelukis itu berkembang dan memasarkan karya mereka. “Dia itu banyak mendorong, me-nurture, pelukis-pelukis muda—yang sekarang sudah jadi kawakan. Dia sangat mau membantu pelukis-pelukis muda dari daerah yang sangat berpotensi, yang memberanikan diri ke Jakarta. Dia membantu memasarkan karya mereka,” jelas Anne.

Untuk diketahui, meski ditinggal sang pendiri, GudangGambar masih terus aktif. Hingga sekarang, galeri seni ini masih menyuguhkan karya-karya yang indah, yang dibuat oleh pelukis seperti Ricky Qaliby, Wenas Heriyanto, Nyoman Budiarta, Meta Pims dan lain sebagainya.

Anne menilai bahwa kontribusi Tim di industri kreatif tak lepas dari sifat Tim yang dipenuhi kebaikan. Menurutnya, Tim adalah seorang dermawan yang tak pernah pandang bulu saat membantu orang lain.

“Tim selalu mengutamakan kindness. He’s a very kind person. Selain itu, dia juga orangnya mudah bersedekah. Jadi buat dia, yang utama itu jangan pernah lupa sedekah. Dia nggak perhitungan,” ujarnya. Terlepas dari kebaikannya yang mendorong kontribusi di industri kreatif, sosok Tim yang jenaka turut terkenang bagi Anne. Ia mengingat Tim sebagai orang yang kaya akan bahan candaan dan bisa memeriahkan suasana. “Dia juga sangat perhatian, sangat baik hati. Jadi, kerja dengan dia itu menyenangkan itu,” kenangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :