Mengenang Roy Sagala, Sosok Kaliber Dunia yang Rendah Hati dan Menyenangkan

Mengenang Roy Sagala, Sosok Kaliber Dunia yang Rendah Hati dan Menyenangkan

Addiction.id-Jakarta Ketika duka terus menghampiri belakangan ini, ketika satu per satu orang terdekat pergi, ketika dunia masih dicekam pandemi, ada sebagian nama yang rasanya tetap terpatri abadi. Bahkan setelah beberapa bulan berpulang, seperti Roy Maulana Sagala, salah seorang pelaku industri periklanan terbaik Indonesia.

Paling tidak, di mata Henry Manampiring, Chief Strategy Officer TCP-TBWA Indonesia, Roy Sagala adalah sosok teladan yang tak pernah bisa dilupakan. Roy wafat pada 19 Januari 2021, setelah ia mengalami serangan jantung.

Henry adalah kolega Roy di agensi yang sama. Sebelum berpulang, Roy merupakan Chief Creative Officer TCP-TBWA Indonesia.

“Saya dekat sekali dengan Roy. Bisa dibilang, mungkin saya ikut bertanggung jawab membuat dia pindah ke bagian kreatif,” tutur Henry, beberapa waktu lalu.

Henry menuturkan, dirinya berkawan dengan Roy sejak 2003, di mana keduanya sama-sama menjadi Strategic Planner di Lowe (sekarang MullenLowe-red).

Seiring berjalannya waktu, ia melihat bahwa Roy kaya akan ide kreatif yang cemerlang. Makanya, Henry mendorong Roy untuk fokus di bidang kreatif.

“Menjelang saya meninggalkan Lowe, Desember 2003—karena dapat beasiswa di Australia—saya ingatkan Roy bahwa sayang sekali dia jadi planner, dia punya bakat di kreatif. Dia harus konsisten jadi kreatif,” tutur Henry.

Roy akan berkembang jika bekerja di divisi kreatif dan agensi pun akan merasakan banyak kontribusinya.

“Saya gak tahu apakah saya yang membuat dia berubah pikiran. Tapi itu yang saya katakan kepada dia,” imbuhnya.

Empat tahun berlalu, Roy kemudian pindah agensi dan mulai menapaki bagian kreatif. Ia bahkan fokus di bagian ini hingga akhir hayatnya.

Sepanjang kariernya sebagai Creative Director, Roy mendapat banyak penghargaan, bahkan dari lembaga internasional.

Pada 2014, Roy sempat membawa Publicis Indonesia menjadi runner-up The Creative Agency of The Year dalam Campaign Brief Asia Agency. Di akhir tahun itu, ia bergabung dengan Havas Worldwide Jakarta sebagai Executive Creative Director.

Hanya dalam dua tahun, ia berhasil menjadikan agensinya sebagai Agency of The Year kedua di Citra Pariwara 2016 dan 2018.

Selain itu, karya-karyanya juga telah diakui di ajang internasional, seperti Cannes Lions, One Show, Spikes Asia, AdFest, London International Awards, Adstars. 

Henry lalu mengisahkan pengalamannya saat ia bergabung di agensi yang sama dengan Roy pada 2020 lalu. Mereka sempat kembali menjadi kolega sekantor selama delapan bulan, sebelum akhirnya Roy berpulang.

Sepanjang waktu itu, Henry mengaku senang bekerja dengan Roy. “Bukan hanya karena kreativitas dan kemampuan teknik dia—itu sudah jelas dia sudah menang award di sana-sini, internasional award juga udah, melainkan karena attitude-nya,” pungkasnya.

Menurutnya, Roy adalah orang yang humble, rendah hati, yang tak pernah meremehkan masukan dari siapa pun. Roy selalu mendengarkan, merespons, dan membahas masukan yang ia terima. “Kalau bagus, kalau perlu, dia terima. Selain itu, dia sangat kolaboratif. Jadi gak ada ego peran. Jadi, kerja dengan dia itu menyenangkan. Jadi kita sama-sama semangatnya, bener-bener kerja bareng, keluarin ide bareng-bareng,” kenang Henry.

Selain itu, ia melanjutkan, Roy punya pengendalian emosi yang luar biasa. Ia mengaku nyaris tak pernah melihat Roy terpengaruh emosinya saat bekerja.

Henry melanjutkan bahwa Roy tampaknya selalu ingin mendorong maju semua orang. “Dia mau push anak-anak biar tampil di depan. Dia ingin semua maju, dia kasih kesempatan untuk present saat pitching apa pun. Dia kasih mereka panggung,” katanya.

“Saya sejujurnya hanya punya kenangan baik selama bekerja bersama dengan dia, dalam delapan bulan terakhir di akhir hayatnya. Jadi kepergian dia itu pukulan, karena dia adalah kolega luar biasa,” tandas Henry.

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :