Aturan untuk Gamifikasi dalam Periklanan

Aturan untuk Gamifikasi dalam Periklanan

oleh Dillon Tedesco*

Addiction.id  Perkembangan game kian meroket dalam 30 tahun terakhir, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dari yang mulanya berupa konsol Nintendo dan Sega klasik, kini menjadi virtual reality, eSports, dan lainnya—yang mungkin ada di generasi berikutnya.

Industri game dinilai begitu besar dan terus berkembang. Bahkan, industri ini diproyeksikan punya nilai $300 miliar dolar di 2025 mendatang. Sayangnya, ini kurang dimanfaatkan oleh brand yang ingin menjangkau konsumen.

Game, pada intinya, memenuhi keinginan manusia yang paling mendasar yakni afirmasi, penghargaan, dan pengakuan. Game sendiri memberi berbagai pengalaman yang dicari orang, misalnya dari game video modern yang canggih hingga pengalaman sederhana seperti game slot. Selain itu, game juga memberi imbalan yang bisa digunakan untuk investasi, baik waktu atau uang, dan transaksi dasar ini serupa dengan berbagai perilaku manusia.

Dillon Tedesco

Brand yang mampu menyelaraskan diri dengan emosi manusia itu, mampu memberi pengalaman yang berkesan dan memengaruhi konsumen dengan cara yang unik. Jadi, tak heran pengiklan bereksperimen dengan “gamifikasi.”

Secara umum, gamifikasi mengacu pada tantangan berlapis dan penghargaan ke dalam aktivitas game. Peloton, misalnya, memungkinkan pengendara sepeda menunjukkan peringkat dan memberi mereka lencana. Hal ini akan meningkatkan rasa persaingan antarpemain.

Sementara, gamifikasi dalam periklanan telah lama hadir dalam berbagai bentuk. Namun demikian, hal ini membutuhkan pendekatan yang bijaksana sehingga bisa memberi nilai tukar yang nyata dan pengalaman yang selaras dengan brand itu sendiri.

Pertama, pertimbangkan apa yang tak boleh dilakukan dalam gamifikasi. Sekadar menjalani kampanye digital tanpa perencanaan yang matang bisa mengakibatkan kegagalan. Baru-baru ini, saya melihat iklan yang tampak seperti game, tetapi sebenarnya bukan game. Tak melibatkan audiens dan tak ada hadiah, hanya produk yang ditampilkan dengan desain game 8-bit dan tanpa konteks. Ini memang memberi pengalaman unik yang menyenangkan, namun tak bisa diandalkan untuk mencapai tujuan akhir.

Kunci lain yang kerap diabaikan dalam gamifikasi adalah penempatan game itu sendiri. Jika hal ini dieksekusi dengan benar, pengalaman iklan gamifikasi seharusnya mencengangkan dan menyenangkan. Sering kali hal ini diartikan dengan menyisipkan iklan di situasi di mana seseorang mungkin tak mengharapkannya atau yang penting, tak terganggu oleh media lain di background.

Perusahaan kami, misalnya, menggunakan gamifikasi untuk mendongkrak iklan dengan menempatkannya di layar pada bagian belakang kendaraan rideshare—merupakan ruang iklan unik di mana penumpang digiring untuk melihat iklan sembari merasakan pengalaman. Hal ini seperti iklan siaran berita atau brand CPG, yang menggunakan cara game arcade klasik yaitu claw memberi kesempatan bagi pengendara atau brand mengenalkan produknya.

Sekarang perhatikan contoh lain. Sebuah perusahaan kosmetik besar, baru-baru ini, meluncurkan arcade virtual yang memungkinkan pemain melihat produk dan mendapat “youth-generating power points“.

Sementara itu, materi iklan produk itu dibuat dengan indah dan permainannya tampak unik. Arcade itu sendiri ada di situs kecil dan harus dikunjungi pengguna untuk ketika ingin memainkannya. Proses pembuatan ini penuh dengan hambaran, belum lagi sumber daya yang harus dimiliki untuk mengembangkan “arcade“. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan terkait siapa yang mengelola  situs kosmetik yang menghadirkan arcade tersebut dan yang lebih penting, mengapa mereka melakukannya?

Gamifikasi memang cocok untuk beriklan jika disiapkan dengan benar dan ditayangkan kepada audiens yang tepat. Menggelontorkan uang untuk membuat video game brand tak akan membuahkan hasil jika pelanggan Anda tak suka video game atau kesulitan menemukannya. Membuat situs atau aplikasi terpisah hanya untuk terlibat dengan brand melalui game bersifat anorganik, dan ini di luar fokus perusahaan. Di sinilah platform seperti Snapchat sukses besar dalam memberi brand peluang tanpa  dan organik untuk menikmati manfaat gamifikasi.

Pengiklan harus mencari peluang di mana permainan bisa relevan. Eksekusi ringan seperti game mencocokkan atau game balap bisa mudah dikenali dan menarik. Memberi kejutan kepada konsumen melalui interaksi di ruang ini adalah cara efektif untuk melibatkan dan menayangkan iklan berkesan.

*CRO di Octopus Interactive

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :