Nyaris Ambyar, Ini Strategi Toko Kelontong Tetap Untung Meski Bersaing dengan Ritel Modern

Addiction.id-Jakarta Bisa dibilang saat ini warung konvensional atau toko kelontong nyaris ambyar karena bersaing dengan toko online atau ritel modern. Terbukti, saat ini ritel modern lebih sering terlihat di pinggir jalan dan toko online lebih banyak diandalkan, jika dibandingkan dengan warung konvensional.

Meski begitu, bukan berarti toko kelontong tak bisa bertahan sama sekali. Ada beberapa kita-kiat yang bisa membantu mempertahankan eksistensinya. Pemilik toko kelontong Helmika Manihuruk, yang tokonya masih bertahan hingga kini sejak didirikan pada 2010, bersedia membeberkan tips memertahankan eksistensi tokonya.

Mula-mula, ia menceritakan bahwa modal awal yang digunakan sebesar Rp17 juta, dikutip pada Rabu (19/5). Modal ini digunakan untuk menyuplai sembako yang akan dijual, seperti beras, minyak goreng, mi instan, jajanan, hingga kebutuhan lainnya yang dicari para pembeli.

Ia menuturkan bahwa persaingan dengan ritel modern dimulai sejak 2015, di mana saat itu ada ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart di sekitar tokonya.

Melihat hal itu, ia mengaku tak menyerah dan menjalankan strategi ATM, yaitu amati, tiru, modifikasi. Ia lantas mengubah tokonya seperti ritel modern dengan harapan para pembeli tetap nyaman saat berbelanja. Adapun pengubahan ini dimulai pada 2016.

“Saya menggunakan sistem komputerisasi. Saya melihat memang kita harus mengikuti tren kalau tidak mau ditinggalkan pelanggan kita. Kalau dulu, sebagian toko kelontongan itu membuat barang gantungan dan penerangan ala kadarnya, kalau ke ritel lampu ada di mana-mana sehingga produk yang di display kelihatan, itu kita tiru,” terangnya.

Strategi lainnya agar mendapat untung besar yaitu memastikan ketersediaan stok barang serta menjaga kebersihan toko dan produk.

Bukan hanya itu, ia pun menerapkan strategi pemberian promo kepada para pelanggannya. “Kita pernah lakukan dengan kupon undian. Dengan minimal nominal Rp20 ribu, kita kasih kupon. Jadi kita buat hadiah yang tidak terlalu besar seperti kipas angin, kompor gas, ini bisa mendongkrak penjualan kita,” ujar Helmika.

Dengan menjalankan strategi-strategi itu, ia jadi memiliki omzet penjualan yang cukup besar dan sudah membuka dua toko kelontong.

“Waktu pertama saya jualan, omzet penjualannya Rp500 ribu itu sehari. Kalau sekarang kan modalnya sudah besar, tokonya juga sudah. Dulu 1 ruko dan sekarang sudah 2 ruko, item yang dijualnya pun sudah banyak,” kata Helmika.

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :