Bukan Sunnah Rasul, ‘Berbukalah dengan yang Manis’ Ternyata Slogan Iklan

Berbuka puasa dengan yang manis?

Addiction.id-Jakarta Imbauan ‘berbukalah dengan yang manis’  sudah seperti pedoman umat muslim di Indonesia saat buka puasa. Lebih-lebih di bulan Ramadan ini, pernyataan tersebut semakin menggema. Tak heran bila menu yang manis menjadi incaran dan pilihan untuk membatalkan puasa.

Lebih jauh lagi, banyak yang percaya bahwa imbauan itu berasal dari hadist, dari kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan sunnah jika dilakukan. Apakah Kamu juga percaya begitu?

Sebetulnya, tak ada hadist yang menganjurkan berbuka puasa dengan yang manis. Sementara, perihal berbuka puasa sudah diterangkan lewat Hadist Riwayat Abu Daud No. 2356 dan Ahmad.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tak ada yang demikian, beliau berbuka dengan seteguk air.”

Meski begitu, beberapa ulama menganjurkan untuk berbuka puasa dengan yang manis. Ada yang menganjurkan buka puasa dengan kurma. Jika tak ada, maka berbuka dengan halawah (manis-manis) dan jika tak ada, maka berbuka dengan air. Selain itu, ada pula yang menafsirkan bahwa berbuka dengan yang manis membantu mengembalikan penglihatan akibat puasa.

Intinya, anjuran berbuka dengan yang manis bukan berasal dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Lantas, bagaimana ‘berbukalah dengan yang manis’ jadi populer, bahkan jadi pedoman umat muslim di Indonesia saat buka puasa?

Dilansir dari CNNIndonesia.com pada Selasa (27/4), menurut pengamat ilmu komunikasi Faris Budiman Annas, slogan ‘berbukalah dengan yang manis’ sudah ada sejak 2006. Adapun slogan ini merupakan bagian dari trik pemasaran sebuah produk teh yang dipasarkan di Indonesia.

“‘Berbukalah dengan yang manis’ ini sebetulnya adalah tagline, campaign salah satu brand teh dan tagline ini sudah dieksekusi lebih dari 10 tahun. Saya coba riset, salah satu brand itu sudah menjalani tagline ini dari 2016. Terus diulang-ulang, hingga informasi ini masuk ke memori audiens,” jelas Faris.

Ia menambahkan, slogan ‘berbukalah dengan yang manis’ merupakan trik marketing yang sukses memadukan budaya—dalam konteks ini, budaya masyarakat selama berpuasa, khususnya di bulan Ramadan.

“Dia (pembuat slogan) paham bahwa umat muslim Indonesia sebagian besar pasti berbuka puasa. Dan, dia sebagai brand minuman, bisa masuk di momentum ketika lagi berbuka. Apa, sih, yang cocok slogannya dengan berbuka? Ya ‘berbukalah dengan yang manis’, meskipun sebenarnya anjuran Islam sendiri enggak seperti itu,” jelas Faris.

Sementara itu, akun Twitter @gizipedia_id pada Jumat, 9 April 2021 membeberkan bahwa ‘berbukalah dengan yang manis’ merupakan tagline dari sebuah brand minuman teh.

“Dan bagi yang belum tahu, “berbuka puasa dengan yang manis” itu bukan sunnah Rasulullah saw. Tapi tagline minuman ini,” cuitnya. Cuitan ini melampirkan tangkapan layar cuitan akun Teh Botol Sosro, si empunya slogan.

“TehBotol Sosro di moment Ramadhan dengan tagline Berbukalah dengan yang manis. Tagline Ramadhan tersebut kami gunakan kurang lebih sekitar 10 tahun yang lalu,” cuit akun Tehbotol Sosro  (20/07/16).

(LH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :