Kebijakan-kebijakan yang Diambil Perusahaan Periklanan Selama Pandemi

Addiction.id-Jakarta. Semua perusahaan periklanan mau tak mau beradaptasi dengan pandemi COVID-19. Segala hal mereka lakukan demi mempertahankan eksistensi. Umumnya, mereka mengutamakan efisiensi dan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work form home/WFH). Bahkan, ada yang mem-PHK karyawannya.

Hal tersebut dibuktikan oleh hasil survei Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesi (P3I) baru-baru ini. Dari 46 perusahaan periklanan yang menjadi responden, semuanya menerapkan WFH. Adapun cara memberlakukan kebijakan ini berbeda-beda.

Sebanyak 32,6% memberlakukan kehadiran 75-100% karyawan. Lalu 30,4% memberlakukan kehadiran 50-75% dan 28,3% responden memberlakukan kehadiran 25-50%. Sementara itu, ada 8,7% responden yang menerapkan WFH seperlunya.

Selain menerapkan WFH, kebijakan lain responden ialah tak menambah karyawan baru. Terdapat 52,2% responden menunda penambahan karyawan. Kemudian 63%, memutuskan untuk tak mem-PHK di 2021. Sementara itu, 17,5% di antaranya sudah melakukan PHK, menurun 2,2%.

Perihal kebijakan gaji karyawan, ada 15,2% responden yang memotong gaji karyawan di seluruh level. Lalu ada 17,4% responden yang memotong gaji pada level manajemen. Di lain sisi, mayoritas responden, yakni 67%, tak memotong gaji.

Selain itu, masih menurut survei P3I, kebanyakan responden mengakui bahwa beralih ke digital, lebih agresif dalam pitching, dan berinovasi merupakan hal wajib. Mereka juga menilai memperbaiki proses, riset industri, mengkaji ulang strategi korporasi, menjaga hubungan dengan klien, dan sebagainya sangat berguna bagi perusahaan.

Lebih lanjut, nyaris seluruh responden mengaku bahwa kebijakan apa pun yang mereka ambil berdampak positif bagi perusahaan.

(LH)