Hasil Survei Kedua P3I Tentang Dampak Pandemi Terhadap Perusahaan Periklanan

Addiction.id-Jakarta. Belum lama ini, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) DKI Jaya merilis hasil survei keduanya tentang dampak pandemi COVID-19 terhadap perusahaan periklanan. Sebelumnya, P3I juga pernah melakukan survei yang serupa pada Agustus 2020.

“Tujuan dari survei ini tak lain agar kita semua sebagai pelaku industri mendapat gambaran kondisi industri di masa pandemi ini. Yang diharapkan dapat membantu pimpinan perusahaan dalam menentukan langkah strategis ke depan,” ungkap Ketua P3I DKI Jaya Elwin Mok dikutip dari keterangan tertulis pada Senin, 15 Maret 2021.

“Tentu saja survei ini jauh dari sempurna. Ada banyak faktor yang membuat survey ini belum benar-benar bisa merepresentasikan kondisi industri secara akurat. Namun diharapkan, informasi indikatif ini bisa membantu temanteman pelaku industri periklanan mempersiapkan langkah di tahun 2021 ini,” tandas dia.

Untuk diketahui, survei tersebut digelar secara daring pada periode 20 Januari 2021 hingga 15 Februari 2021. Ada 46 perusahaan yang menjadi responden dan mereka diminta mengisi survei.

Hasil suvei menunjukkan bahwa mayoritas responden mengelola iklan digital atau media sosial, dengan persentase 82,6%. Kemudian disusul iklan above the line (ATL) sebanyak 73,9%. Masing-masing mengalami peningkatan dari hasil survei pertama, meski tipis dengan masing-masing meningkat 8,1% dan 13,1%.

Adapun kategori klien responden yang paling banyak yaitu Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dengan 69,60% dan Food & Beverages 47,8%. Masing-masing juga meningkat 8,8% dan 6,6%. Kemudian di urutan ketiga ada kategori otomotif dengan 39,1%–di mana pada survei tahun lalu, kategori lembaga finansial yang menempati urutan ini.

Kemudian didapati bahwa rata-rata pencapaian billing 40% lebih responden ada di atas 50 Milyar. Persentase ini menurun jika dibandingkan dengan survei pertama, yang mencapai 80%. Sementara itu, di tahun ini pencapaian billing mayoritas responden (lebih dari 50%) mencapai 5—50 Milyar.

Lalu sebanyak 17,4% yang melampaui target billing di atas level 100% pada akhir periode 2020. Angka ini naik 12% dari yang diproyeksikan pada periode kuartal I-III yakni 5,9%. Sementara itu, di level 75%-100% nyaris sesuai dengan yang diproyeksikan mayoritas responden pada kuartal I-III 2020. Kemudian pada level 50%-75% terjadi penurunan 6.2%

Kebijakan Para Responden
Selanjutnya, mayoritas responden mengakui bahwa menerapkan WFH dan mengutamakan efisiensi merupakan keputusan terbaik.

Didapati bahwa semua responden menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH). Secara rinci, sebanyak 32,6% memberlakukan kehadiran 75-100% dari jumlah karyawan, lalu 30,4% memberlakukan kehadiran 50-75% dan 28,3% responden memberlakukan kehadiran 25-50%. Sementara itu, ada 8,7% responden yang menerapkan WFH seperlunya.

Perihal kebijakan gaji karyawan, 67,4% responden tak melakukan pemotongan gaji di 2021 ini. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 49%. Lalu 17% responden melakukan pemotongan gaji pada level manajemen di 2021, menurun dari 31,4% pada tahun lalu. Selanjutnya, 15,2% responden sudah melakukan pemotongan gaji bagi seluruh karyawan di 2021, juga turun dari 19,6% pada tahun lalu.

Kemudian menyoal status karyawan, tak ada responden yang menambah karyawan baru. Terdapat 52,2% responden menunda penambahan karyawan. Kemudian 63%, memutuskan untuk tak mem-PHK di 2021. Sementara itu, 17,5% di antaranya sudah melakukan PHK, menurun 2,2%.

Terakhir, berbicara soal masa depan, kebanyakan responden (60,9%) optimis akan mencapai hasil yang lebih baik di 2021, daripada tahun sebelumnya. Bahkan, sebanyak 56% responden mengaku optimis di semester pertama 2021, sementara 37% mengaku netral.

Melihat hasil survei tersebut, Ketua Bidang Internal Organisasi P3I DKI JAYA Edhy Bawono mengatakan bahwa di masa pandemi ini, optimisme para pelaku industri periklanan masih nampak positif. Ia melanjutkan, banyak di antara mereka yang melakukan sejumlah terobosan sebagai bentuk adaptive survival terhadap dinamika ekonomi.

“Hampir semua responden beralih dan memperkuat kaki ke area digital, lebih agresif dalam pitching, dan berinovasi adalah hal wajib bagi mereka. Mereka juga menilai memperbaiki proses, riset industri, mengkaji ulang strategi korporasi, menjaga hubungan dengan klien, dan sebagainya sangat berguna bagi perusahaan,” sambung dia.

Lebih lanjut, nyaris seluruh responden mengaku bahwa mayoritas kebijakan yang mereka ambil berdampak positif bagi perusahaan.

Semoga optimisme ini terus meningkat sejalan dengan perbaikan ekonomi Indonesia di 2021.

(LH)