Alokasi Biaya Iklan dan Promosi Harus Menyesuaikan Kondisi Pasar

Addiction.id-Jakarta. Perusahaan mana pun yang ingin melakukan promosi wajib mengalokasikan biaya untuk memasarkan hingga mengiklankan produknya. Tak sedikit yang rela mengeluarkan banyak dana untuk hal ini. Salah satunya PT Kino Indonesia Tbk (KINO).

KINO mengeluarkan biaya iklan dan promosi sebesar Rp 555,13 miliar hingga kuartal ketiga 2020. Meski terlihat besar, sejatinya angka ini menurun jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yang mencapai Rp 703,15 miliar, dikutip dari Kontan pada Selasa (16/3).

Diketahui, alokasi biaya untuk iklan dan promosi mencapai 17,84% dari total penjualan KINO di kuartal ketiga 2020, yang mencapai Rp 3,11 triliun.

Direktur Keuangan Kino Indonesia Budi Muljono menuturkan bahwa biaya iklan dan promosi disesuaikan dengan kondisi pasar. Ia melanjutkan, penurunan alokasi keduanya di kuartal ketiga bukan untuk efisiensi biaya, melainkan merupakan strategi smart spending.

Sebagai contoh, kata Budi, secara umum produk kecantikan terpukul begitu berat karena terkena dampak langsung dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama masa pandemi COVID-19.

Di masa ini, orang yang bisa menggunakan kosmetik saat keluar ke kantor atau ke tempat umum sangat dibatasi. Selain itu, masyarakat wajib menggunakan masker. Hal ini tentu sangat mengurangi penggunaan produk-produk kecantikan.

Belajar dari hal tersebut, meski KINO terus mengalokasikan biaya iklan dan promosi di segmen tersebut, tentu manfaatnya sangat kecil dan tak sebanding dengan pengeluaran. Karenanya, perusahaan berupaya untuk menyesuaikan dengan situasi. Jika situasi mulai membaik dan pengeluaran biaya untuk iklan bisa meningkatkan penjualan dengan proporsi yang baik, perusahaan akan mematok pengeluaran yang lebih besar.

“Yang pasti kami sebagai perusahaan akan tetap prudent dalam berbisnis dimana semua pengeluaran telah kami perhitungkan dengan detail dari segi manfaat dan risikonya,” kata Budi.

Lebih lanjut, Budi mengatakan, pihaknya melakukan berbagai kombinasi usaha di segala sisi, baik dari segi efisiensi biaya maupun harga guna menjaga margin. Namun, pihaknya akan terus melihat kondisi lapangan.

“Menaikkan harga di tengah kondisi daya beli yang belum pulih mungkin bukan merupakan momen yang tepat,” pungkasnya.

(LH)