Ikuti Tren Komunikasi Terkini, Brand Bikin Serial Cerita di YouTube

Addiction.id-Jakarta. Beberapa tahun belakangan ini, sejumlah brand di Indonesia membuat serial cerita di platform internet seperti YouTube. Adapun pembuatan serial ini disponsori oleh si brand dan merupakan iklan dari produk brand tersebut.

Adapun contoh brand yang membuat serial cerita yaitu Tropicana Slim dan Toyota. Pada 2017 lalu, Tropicana Slim meliris serial bertajuk “Sore” dengan sembilan episode. Sementara, Toyota merilis serialnya dengan tajuk “Mengakhiri Cinta” pada 2018 lalu sebanyak tiga episode.

Jika tak diunggah di kanal YouTube resmi milik brand, serial tersebut justru sama sekali tak nampak seperti iklan. Selain itu, nyaris tak ada product replacement di sepanjang episodenya.

Dilansir dari CNNIndonesia pada Senin (15/3), Brand Manager Tropicana Slim Noviana Halim mengungkapkan bahwa serial tersebut dibuat bukan untuk promosi, melainkan untuk mengajak masyarakat hidup sehat dengan cara yang bisa diterima warganet.

“Web series tersebut tentunya efektif dalam meningkatkan tak saja awareness, tapi ekuitas brand Tropicana Slim, di mana kanal YouTube brand ini meraih penghargaan Silver Button Award sebagai salah satu contoh,” tutur Novi.

Sementara itu, pihak Toyota pun memberi tanggapan yang nyaris serupa dengan Novi. Interactive Communication Department Head PT Toyota Astra Motor Dimas mengatakan bahwa pihaknya membuat serial di YouTube karena hal tersebut merupakan sarana komunikasi yang sedang tren.

“Kami merasa bahwa penyampaian komunikasi melalui serial di Youtube ini cukup diminati oleh masyarakat, sehingga dirasa efektif bagi Toyota dan pelanggan untuk bisa saling berinteraksi lebih dekat,” terang Dimas.

Baik Novi maupun Dimas mengaku serial buatannya pihaknya suskes dan sesuai dengan tujuan. Keduanya tak ambil pusing bila penonton hanya ingin menikmati cerita, tanpa peduli brand yang diperlihatkan. Malah, masing-masing mengatakan, ke depannya, ada peluang untuk membuat serial lagi—demi mengikuti strategi komunikasi terkini.

Sayangnya, mereka tak menjelaskan dengan gamblang apakah serial yang mereka buat mampu mendongkrak penjualan produk.

Akademisi Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ) Satrio Pamungkas mengaku tak heran dengan strategi komunikasi seperti itu. Ia mengatakan, iklan yang cenderung bersifat hard selling di TV kini bersifat soft selling di dunia maya.

“Menurut saya, kalau ke depan ada iklan soft selling berbentuk serial seperti ini bagus. Penonton sudah capek dengan iklan hard selling. Asalkan kualitas harus dijaga agar tidak kehilangan penonton dan pemilik modal tidak membatasi gerak kreator dari berbagai aspek, termasuk finansial,” jelas Satrio.

Ia mengatakan, pembuatan serial itu merupakan strategi menggiring pasar, di mana pengiklan tak harus koar-koar seperti kebanyakan iklan di TV dan cenderung membikin penonton bosan.

“Di sisi lain, pembuatan serial itu juga seperti menjadi gengsi antarperusahaan. Mereka ingin kasih tahu bahwa mereka bisa bikin iklan yang keren. Bukan iklan standar pada umumnya,” sambungnya.

(LH)