Performa Iklan atau Kenyamanan Pengguna?

Addiction.id-Jakarta. Indonesia Digital Association (IDA) melaporkan hasil survei terkait performa iklan di sejumlah media online. Berdasarkan keterangan resminya pada Selasa (9/3), survei ini menguak format-format digital apa saja yang disukai dan tak disukai oleh pengguna media.

Sebelumnya, pada periode Januari-Februari 2021, IDA menyurvei 245 responden yang terbagi menjadi 56% perempuan dan 44% pria.

“Dari sisi demografi, sebanyak 29% jangkauan usianya 35-44 tahun, berimbang antara pria dan perempuan. Sedangkan sebanyak 31% jangkauan usia 25 hingga 34 tahun yang didominasi perempuan,” ujar periset di IDA Cahyanto A. Wibowo, pada Selasa (9/3).

Survei tersebut pun menunjukkan bahwa perangkat yang paling banyak digunakan untuk membaca berita online ialah mobile browser (58%), dan mobile app (27%), dekstop browser (15%).

Selanjutnya, dijabarkan pula perihal iklan di media online. Iklan online secara umum dipersepsikan negatif oleh 64% responden. Mereka terganggu karena iklan, bahkan 11% dari responden merasa iklan online sangat menjengkelkan.

Adapun jenis iklan yang paling tak disukai ialah iklan yang tak bisa ditutup manual merupakan tipe iklan yang paling tak disukai, di mana total persentasenya mencapai 70% responden. Jenis iklan ini misalnya video yang tak bisa ditutup selama lima detik.

Lau, sebanyak 58% responden mengaku bahwa posisi iklan yang menutupi konten menjadi alasan untuk menutup iklan online. Kemudian alasan lain karena durasi iklan dianggap lama.

Menurut usia, kelompok usia 35-44 tahun merupakan usia paling kritis terhadap iklan online. Sementara, pada kelompok usia 18-34 tahun, kurang dari 10% yang benar-benar tak suka iklan. Persentase ini terendah jika dibandingkan dengan kelompok usia lain.

Kemudian pengguna nampaknya lebih bisa kompromi dengan iklan online. Terlebih jika pengguna betul-betul sedang membutuhkan konten di suatu situs.

Adapun hasil survei tersebut bisa dijadikan bahan evaluasi bagi media dan pengiklan, untuk menentukan strategi komunikasi periklanan digital. Utamanya, saat harus menentukan mana yang harus didahulukan: performa iklan di media online atau kenyamanan pengguna.

Selain itu, hasil survei itu pn menekankan pentingnya strategi dan teknologi sebagai jalan tengah antara performa iklan, kenyamanan pengguna, dan kualitas iklan. Sebab kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap persepsi sebuah brand.

Chairman IDA Dian Gemiano mengatakan, ketika pemasar melakukan kampanye iklan digital, mereka tak hanya pasang iklan di media dan mengharapkan performa dasbor berjalan sesuai rencana. “Lebih dari itu, sebuah kampanye iklan adalah cara brand berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan konsumen,” lanjut dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa hubungan brand dan konsumen yang positif terbentuk dari pengalaman-pengalaman positif. “Jadi sangat penting para pengiklan memperhatikan pengalaman konsumen ketika berinteraksi dengan iklan mereka,” tutur Dian.

Diketahui, IDA merupakan sebuah perkumpulan yang berperan menaungi para pemain usaha di bidang periklanan digital dan mengawasi gerak periklanan digital di Indonesia.

(LH)