Google Berhenti Lacak Riwayat Pencarian Pengguna Untuk Kepentingan Pengiklan

Addiction.id-Jakarta. Google akan menghentikan metode tracking iklan dengan cookie pihak ketiga di jejaring iklannya dan mesin pencari Chrome pada 2022 mendatang. Diketahui, selama ini metode tersebut membantu pengiklan menyesuaikan konten promosi dengan riwayat pengguna di internet.

Keputusan Google itu dilatarbelakangi meningkatnya kekhawatiran pengguna terkait privasi dan penggunaan data pribadi.

“Jika periklanan digital tak berkembang untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, maka kami mempertaruhkan masa depan web yang bebas dan terbuka,” ujar David Temkin, Director of Product Management, Ads Privacy and Trust Google, melalui blog resmi Google, belum lama ini.

Sekadar informasi, cookie merupakan kode kecil yang dikirimkan oleh website ke perangkat pengguna, untuk memonitor dan mengingat aktivitas pengguna di website tersebut. Mekanisme ini dimanfaatkan oleh pengiklan untuk membangun profil tentang pengguna dengan mengamati riwayat berselancar di internet. Dengan demikian, cookie mempermudah pengiklan mengetahui apa saja yang menarik bagi seseorang sehingga iklan bisa tepat sasaran.

Di industri periklanan digital saat ini, kata Temkin, data pengguna saling dibagikan oleh ribuan perusahaan. “Biasanya (data pengguna) diperoleh dari cookie pihak ketiga,” lanjutnya.

Meski menghentikan metode tracking melalui cookie, Google masih bisa melacak aktivitas pengguna melalui “Privacy Sandbox”—yang memungkinkan menargetkan iklan, namun tetap menjaga privasi pengguna.

Melalui Privacy Sandbox, hadirlah Federated Learning of Cohorts (FLoC). FloC akan mengelompokkan pengguna yang punya pola penjelajahan serupa. Dengan FLoC, pengiklan bisa menargetkan iklan ke kelompok dengan minat yang sama. “FLoC bisa mencegah pelacakan individu namun tetap memberikan hasil untuk pengiklan dan penerbit,” jelas Temkin.

Selain FLoC, Google tetap mengumpulkan data secara “first party“, dari layanannya sendiri seperti YouTube dan Search. Demikian pula pelacak Google di aplikasi-aplikasi mobile, yang masih bisa melacak pengguna.

Vox melaporkan pada Jumat (5/3/2021), upaya Google tersebut tak berdampak besar bagi keuangan Google. Diketahui, lebih dari sebagian pendapat Google berasal dari Google Search. Ini lebih besar daripada pendapatan dari jejaring iklan Google yang mengandalkan cookie pihak ketiga.

Dengan FLoC, Google mengklaim bahwa pengiklan bisa mendapat return yang hampir sama dengan tracking berbasis cookie.

Diketahui, belakangan ini, nampaknya Google semakin memperhatikan masalah privasi menimbang adnaya tekanan dari regulator di sejumlah belahan dunia terhadap praktik bisnis search dan targeted advertising miliknya. Misalnya di Amerika Serikat, Google menghadapi setidaknya tiga gugatan anti-trust.

(LH)