Brand Itu Rapuh, Jangan Salah Langkah Pasarkan Produk

Addiction.id-Jakarta. Marketing dan Managing Partner Inventure Yuswohady menjelaskan bahwa nyawa dari sebuah brand adalah kredibilitas atau kejujuran. Sehingga, saat brand diketahui tak jujur, maka akan merusak reputasinya.

“Jadi ketika brand dihancurkan oleh satu peristiwa seperti ini, maka sudah habislah reputasinya,” ujar dia, Kamis (18/2).

Ungkapan Yuswohady itu berangkat dari kasus YouTuber Indonesia Fiki Naki dan Dayana, YouTuber asal Kazakhstan, menjadi sorotan warganet beberapa hari terakhir ini.

Diketahui, pada Hari Valentine, Fiki mengirimkan hadiah dari Indonesia ke Kazakhstan untuk Dayana lewat jasa ekspedisi Shipper—brand yang diendorse mereka. Baik Fiki dan Dayana kemudian mengunggah pengiriman itu di Instagram, yang menunjukkan kiriman telah sampai dengan aman dan tepat waktu.

Namun, Dayana merasa dirugikan karena pembayaran dari mengendorse tak sesuai kesepakatan di awal. Kemudian ia membeberkan bahwa hadiah tersebut adalah ‘settingan’. Artinya, barang tak benar-benar dikirimkan dari Indonesia ke Kazakhstan, melainkan Dayana hanya memposting foto yang dikirimkan Fiki padanya.

Yuswohady mengatakan, dalam dunia marketing, iklan yang bersamaan dengan peristiwa otentik punya pengaruh yang besar terhadap reputasi positif pada brand tersebut.

Dalam kasus Fiki dan Dayana, kejadian mengirim barang dari Indonesia ke Kazakhstan merupakan peristiwa otentik, yang kemudian diselipkan penggunaan jasa Shipper sebagai iklan.

“Ini kan kasusnya hampir sama seperti brand placement, jadi seolah-olah peristiwanya otentik, tapi brand-nya itu nyelip, kayak iklan terselebung,” jelas dia.

Konsep iklan seperti itu lazim. Namun, lanjutnya, tak tepat jika dibarengi rekayasa peristiwa seperti yang dilakukan kedua Youtuber itu.

Yuswohady melanjutkan, konsep iklan “setting-an” bersama influencer berisiko tinggi dan umumnya dihindari oleh merek-merek kenamaan. Pasalnya, brand menyadari sulitnya membangun reputasi dan menjaga reputasi positif. Dibutuhkan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun untuk itu.

Namun, brand sangat rapuh. Sekali terkena satu kasus, reputasi yang sudah di bangun lama bisa rusak. “Untuk mengembalikan (reputasi) lagi susah,” imbuh dia.

Maka dari itu, merek-merek besar tak berani membikin konsep iklan “setting-an” dan tak jujur. Mereka pun biasanya lebih selektif dalam memilih influencer.

“Kalau saya menganjurkan, janganlah brand itu main-main yang berisiko tinggi, yang bisa merusak reputasinya,” tutup Yuswohady.

(LH)