Kebijakan Baru WhatsApp untuk Kelancaran Bisnis Iklan Digital

Channel9.id-Jakarta. Sebagaimana telah diketahui, kebijakan privasi terbaru WhatsApp sedang menjadi sorotan. Pasalnya, buntut dari kebijakan tersebut, memaksa para pengguna WhatsApp membagikan datanya ke Facebook, selaku induk perusahaan WhatsApp.

Menurut pengamat keamanan siber Ruby Alamsyah, data-data yang diperoleh Whatsapp menjadi profiling tertentu, untuk menayangkan iklan yang relevan.

“Pengguna WhatsApp sekitar 2 miliar lebih dan Facebook juga cukup besar. Mereka sebagai penyedia platform online grup besar menggunakan big data menganalisa secara mendalam menggunakan AI (artificial Intelligence) dan machine learning dibuatlah produk baru atau service baru. Ada profiling tertentu dan akan dikirimkan iklan yang sesuai di Facebook,” jelas Ruby, dikutip dari CNBC pada Selasa (12/1).

Ia melanjutkan, data akan diolah oleh WhatsApp dan Facebook untuk dioptimalisasi sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat—berdasarkan klaim perusahaan. Meski demikian, kata dia, privasi pengguna akan tetap terjaga, karena pesan antaruser tak akan dibaca oleh platform tersebut.

Ruby mengatakan data-data yang akan dibagikan ke Facebook—seperti informasi perangkat, nomor handphone, operator seluler, IP adress pengguna yang digunakan di WhatsApp—merupakan data general.

Lalu informasi payment system yang digunakan di Facebook juga akan dibagikan. Data tersebut mengenai profil pengguna seperti apa dan kapan transaksi dilakukan. Namun bukan informasi data kartu kredit.

“Aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram menyatakan menggunakan teknologi end-to-end encryption, sudah dipastikan seluruh pesan tak bisa dibaca oleh siapapun. Baik oleh WhatsApp, pihak ketiga maupun penegak hukum dengan cara yang umum,” pungkas Ruby.

Untuk diketahui, WhatsApp akan menerapkan kebijakan privasi terbarunya pada 8 Februari 2021. Jika tak setuju dengan kebijakan tersebut, pengguna menghapus akun WhatsApp.

Sementara itu, merespons gelombang protes masyarakat dunia, WhatsApp mengakui bahwa praktik membagikan data ke Facebook sudah berlaku sejak 2016. Namun, jumlah data yang dibagi masih terbatas. “Di ranah backend, khususnya untuk kebitihan infrastruktur. Tidak ada perubahan baru di update kebijakan ini,” sambungnya.

(LH)