Surat Kabar di Era Kolonial Belanda Kampanyekan Pendidikan Perempuan Hingga Antipoligami

Addiction.id-Jakarta. Sebelum Indonesia merdeka, tepatnya saat masih dijajah Belanda, surat kabar menjadi media untuk berkampanye. Demikian tutur sejarawan dan aktivis gerakan perempuan Ita Fatia Nadia.

Ita menjelaskan bahwa surat kabar diandalkan oleh sejumlah organisasi perempuan di abad ke-19 dan awal abad ke-20, untuk mengampanyekan dan menunjukkan bagaimana kondisi perempuan di periode tersebut.

Untuk diketahui, pada periode itu bermunculan organisasi perempuan di beberapa daerah yang fokus bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Melalui organisasi ini, perempuan dididik agar bisa baca-tulis dan memiliki keterampilan memasak hingga menjahit. Mereka juga menanamkan nilai-nilai tentang betapa jahatnya misalnya penelantaran dan pemerkosaan terhadap perempuan.

Adapun beberapa organisasi itu di antaranya seperti Putri Mahardika, Keutamaan Istri, Kerajinan Amai, Pawiyatan Wanito, Wanito Hado, Putri Budi Sedjati, PIKAT, Wanito Susilo, Aisyiyah, dan Fatimiah.

“Organisasi-organisasi itu juga menerbitkan surat kabar. Surat kabar ini menjadi bagian dari kampanye mereka tentang bagaimana kondisi perempuan pada saat itu,” ujar Ita, saat diskusi daring yang digelar Historia.id pada Selasa (22/12).

“Misalnya ada surat kabar Wanito Sworo terbitan Putri Mahardika. Saya sempat baca, pemimpin redaksinya, Siti Soendari, sudah menulis suatu tulisan tentang feminisme, namun dalam penyebutan menggunakan bahasa Perancis. Ia menulis tentang bagaimana perempuan mandiri, bisa menentukan hidupnya sendiri,” papar Ita.

Ia melanjutkan, surat kabar juga mencerminkan haluan organisasi perempuan yang pada saat itu fokus pada isu sosial dan pendidikan.

“Mereka (organisasi) juga antipoligami dan menolak pernikahan dini atau kawin paksa. Mengenai masalah ini, mereka menyebutnya sebagai kejahatan, bukan kekerasan,” sambung Ita.

Surat kabar lain yang mengampanyekan hal yang serupa di antaranya, Al Sjarq, Suara Perempuan, Perempuan Bergerak, PIKAT, dan SEDAR.

“Semua surat kabar itu mengampanyekan tiga hal, yaitu tentang pendidikan perempuan, antipoligami, dan tentang keterampilan perempuan,” jelas Ita.

Namun, Ita menyayangkan bahwa hal-hal semacam itu tidak dituliskan di dalam sejarah indonesia. “Hal-hal ini tidak dituliskan ni dalam sejarah Indonesia. Tentang Siti Soendari misalnya. Padahal waktu itu dia menuliskan tentang bagaimana kondisi perempuan ketika itu,” katanya.

“Saya ketika belajar sejarah saya tidak pernah mendapat mata kuliah yang membahas tentang sejarah perempuan. Bahkan, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia yang enam jilid, tentang perempuan dimasukkan hanyak sedikit,” pungkas Ita.

(LH)