Organisasi Ini Rilis Kampanye Tentang Toxic Masculinity

Addiction.id-Jakarta. Sikap, perilaku, hingga tindakan individu tak bisa terbebas dari norma dan nilai yang berlaku dalam suatu tatanan masyarakat. Setiap individu pasti hidup di bawah sistem ini, di mana nantinya akan membentuk karakter unik mereka masing-masing.

Pandangan seorang individu terhadap suatu hal pun juga sangat dipengaruhi oleh sistem tersebut.

Ada satu pandangan umum yang meluas di lingkup global, yaitu pria harus perkasa dan tak boleh nampak lemah. Belum diketahui pasti awal mula pandangan ini muncul, namun yang jelas, pandangan ini begitu populer hingga hari ini.

Belakangan ini, para aktivis sosial menyadari dan mulai menggaungkan betapa merugikan dan fatalnya pandangan tersebut bagi semua orang, utamanya bagi aspek psikis. Mereka menyebut pandangan itu sebagai toxic masculinity. Ini bisa merusak hubungan mereka dengan diri sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Berangkat dari itu, organisasi sosial Renaissance Youth Leaders Forum (RYLF) merilis kampanye tentang toxic masculinity di akun media sosialnya pada 21 November lalu. Melalui kampanye ini, mereka ingin melawan stigma dan toxic masculinity, dengan memopulerkan tagar #FightTheStigma dan #UNMUTE.

Untuk diketahui, RYF merupakan organisasi sosial-kemasyarakatan dari Silliman University di Filipina. Organisasi ini hadir guna menjembatani perpecahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik, dan berupaya menciptakan perubahan positif di masyarakat.

“Baik pria maupun wanita menderita karena toxic masculinity. Itu terjadi setiap hari baik online maupun offline,” tulis pesan kampanye tersebut.

Pada unggahan di Twitter dan Facebook-nya, RYLF membagikan deretan poster guna menjabarkan maksud dari pernyataan tersebut. Pada poster, ada pria mengenakan warna merah muda hingga menangis.

RYLF memberi tahu bagaimana nilai masyarkat menekan dan melarang pria untu berekspresi.

Berikut ini deretan poster RYLF tentang toxic masculinity yang kerap dialami pria dan keharusan pria.

(LH)