Terkena Krisis Karena Pandemi, Banyak Anak Muda ‘Kembali Ke Akar’

Addiction.id-Jakarta. Pengalaman di usia remaja akan memproyeksi kehidupan selanjutnya. Pasalnya, apa yang disukai di masa muda akan memengaruhi pilihan seseorang ketika memasuki usia lebih tua. Demikian ungkap Executive Director Youth Laboratory Indonesia Muhammad Faisal.

Adapun pengalaman di usia itu akan memengaruhi banyak hal, dari selera, nilai nilai-nilai kehidupan hingga cara melihat dunia.

Ia kemudian membenarkan psikolog asal Amerika Serikat Robert Stonberg yang mengatakan bahwa “apa yang kamu alami atau sukai atau pelajari di masa remaja, akan relatif menetap hingga usia selanjutnya.”

“Misalnya waktu remaja kita suka sepatu Converse, nanti saat usia kita lebih tua, kita akan secara otomatis memilih sepatu itu—yang kita sukai di masa remaja,” lanjutnya ketika di acara Master Class Citra Pariwara 2020 dengan tema “Major Cultural Shift: Pop Culture Post Covid” pada Kamis (10/12).

Faisal mengatakan bahwa critical moment sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang di usia remaja. Ingatan tentang critical moment tersebut akan lama menetap di pikiran seseorang sehingga akan memengaruhi sudut pandangnya terhadap sesuatu di masa yang akan datang. Momen ini pulalah nantinya ‘memisahkan’ satu generasi dengan generasi lainnya, dari sisi sudut pandang.

“Perang, revolusi kebudayaan, dan perkembangan teknologi termasuk critical moment. Kondisi ini akan berpengaruh baik secara ekonomi, pendidikan, sampai politik juga berubah. Demikian juga pandemi,” sambungnya.

Di masa pandemi Covid-19, lanjut Faisal, membuahkan dua masalah besar bagi anak muda di dunia, termasuk Indonesia. Pertama, resesi ekonomi yang diprediksi akan lebih buruk dari resesi 2008, krisis 1998, bahkan pasca Perang Dunia 2.

“Hal ini karena faktor physical distancing yang membatasi pergerakan kita,” imbuhnya.

Selain itu, anak muda juga akan mengalami permasalah lingkungan hidup, di mana akan ada krisis air di 2025.

Sementara itu, di sisi psikologis, Faisal mengatakan bahwa banyak anak muda di masa pandemi yang yang gelisah karena pekerjaan. “Banyak di antara mereka yang kehilangan kerja,” tambahnya.

Kembali ke Akar
Faisal memaparkan bahwa ketika menghadapi krisis, generasi muda belum tentu memunculkan karakter baru. Sebab bisa saja memori kolektif lama yang akan muncul ke permukaan. Akhirnya mereka mempraktikan hal yang generasi lama lakukan di periode-periode sebelumnya.

“Contohnya, saat pandemi di Italia. Banyak yang pulang kampung untuk berkebun. Karena ada memori kolektif di mana mereka mengalami krisis, mereka mempraktikan gaya hidup yang lebih dekat dengan lingkungan dan mandiri. Ini saya sebut dengan proses kembali ke akar,” tuturnya.

Ia juga menyebut kesamaan pandemi hari ini dengan pandemi flu 1917-1919. Saat pandemi flu, orang-orang di dunia di usia muda, termasuk Indonesia sebelum merdeka, harus mengalami proses karantina, mematuhi protokol kesehatan, dan sebagainya.

“Kemungkinan besar generasi kita saat ini mengalami hal yang sama. Proses ini juga termasuk pencerahan kepribadian dan intelektualitas yang menentukan masa mendatang,” ujar Faisal.

Insight bagi agensi
Faisal juga menyinggung soal sejarah dinamika pemuda di Indonesia sebelum kemerdekaan. Pada saat itu, jelasnya, para pemuda bersatu dengan membentuk komunitas untuk melawan para penjajah, seperti Belanda dan Jepang.

Hasrat untuk bersatu itu, lanjut dia, akan tetap ada hingga kini. Terlebih di masa krisis, seperti penjajahan atau, saat ini, pandemi Covid-19.

Berangkat dari hal itu, kepada agensi Faisal mengatakan, menggaungkan narasi kebersamaan adalah hal yang bisa dipegang bebetapa tahun ke depan.

“Dalam kondisi pandemi Covid-19, saya rasa yang lebih penting bagi anak muda adalah narasi kebersamaan. Itu yang paling relevan, karena itu yang mereka butuhkan secara individual dan kolektif. Jadi, ini hal yang sama persis dialami generasi di masa revolusi Indonesia. Kenapa itu ada sumpah pemuda? Salah satunya karena mereka butuh banget sense of togetherness itu. Narasi yang beriringan dengan itu akan relevan, terlepas dari konstelasinya seperti apa,” papar Faisal.

Sebagai informasi, Muhammad Faisal juga membeberkan hal tersebut secara komprehensif di dalam kedua bukunya yakni Gnerasi Phi dan Generasi Kembali Akar. Kedua buku ini menjelaskan tentang generasi dan rumusan teori generasi yang cock untuk konteks inodonesia.

Untuk diketahui, master class Citra Pariwara digelar sejak pukul 10.00 WIB pada 10 Desember 2020. Kelas ini dibagi menjadi dua kanal. Masing-masing kanal terdiri dari tiga sesi, di mana setiap sesi membahas tentang culture, craft, dan tech. Pada tiap sesi ini turut hadir tokoh yang mumpuni dan berpengalaman di industri kreatif dan periklanan.

(LH)