Pentingnya Memahami Users Bagi Ketahanan Media Komunikasi

Addiction.id-Jakarta. Segala jenis bentuk komunikasi dinilai perlu memahami users atau penggunanya. Sudah seharusnya pemberi layanan mengetahui bagaimana penggunanya mencari informasi dan lain-lain. Hal ini tentunya agar membuat pengguna betah berlama-lama dan menerima informasi dari platform komunikasi tersebut. Alhasil, engagement platform pun melonjak.

Misalnya, ada seseorang yang berminat pada isu politik, maka dia akan diberi berita-berita politik melulu.

Namun,Yunanto Wijiutomo, seorang jurnalis sains dan interaktive content manager Kompas.com, mengatakan hal tersebut tak semata-mata harus dilakukan di jurnalisme. “Karena harusnya orang mengetahui banyak isu yang penting,” sambungnya saat mengisi Master Class bertajuk “Write with Heart” di Citra Pariwara ke-33, Kamis (10/12).

“Karena jurnalisme, harusnya yang kita pikirkan adalah bagaimana mengemas isu-isu penting tersebut—terlepas apa pun backgroundnya, audiens mau membaca dan menikmati atau mendapat pesannya,” sambung Yunanto.

Berangkat dari latar belakang itu, Yunanto mengatakan pihaknya bereksperimen di Kompas.com dengan membuat visual interaktif Kompas (VIK). VIK bisa dikunjungi di vik.kompas.com, di mana akan ada produk reportase jurnalisme dalam bentuk multimedia, seperti teks, foto, audio, video, dan infografis.

“Dengan VIK, kita mencoba menemukan cara komunikasi baru kepada pembaca di era digital ini dan mencari model bisnis baru, entah dari funding yang jumlahnya bisa beragam atau bagaimana. Kita bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain, sehingga kita bisa menggarap konten bersama dengan pendanaan bersama. Selama ini Kompas hanya mengandalkan ads,” jelas Yunanto.

Yunanto mengakui bahwa media cetak atau media konvensional memang menyajikan info yang lebih komprehensif. Namun, anak muda yang saat ini jumlahnya paling banyak di Indonesia cenderung menikmati informasi dari media sosial. Karenanya, VIK disebut bisa diandalkan untuk memberi feed kepada mereka.

Di konteks pandemi Covid-19 seperti ini, ia mengatakan pihaknya berinisiatif untuk membuat sebuah konten. “Kita punya misi untuk membuat konten Covid yang kompleks ini ke audiens yang muda dan relatif ga ngerti soal latar belakang sains dan kompleksitasnya,” ungkap Yunanto.

Ia menambahkan, konten bukan untuk sekadar menguraikan apa yang dilakukan, tapi membangun awareness tentang apa yang ingin disampaikan. Hal ini, lanjutnya, juga berlaku untuk agensi kreatif dan periklanan. Tujuan ini ia harapkan bisa tercapai dengan kehadiran VIK.

Lebih lanjut, Yunanto juga menuturkan bahwa dalam berkomunikasi harus fleksibel, sebab di masa mendatang bentuk konten sangat beragam.

“Ini repot. Jadi, misalnya, penulis tak hanya menulis seperti sekarang. Tapi nanti kemasannya berbeda, seperti podcast atau komik. Mungkin kita harus menulis dengan cara yang berbeda. Dulu memang menulis panjang dipandang ‘wah’, tapi sekarang kita harus menulis dengan singkat tapi mengena,” tandasnya.

“Mula-mula kita coba pahami users terlebih dahulu. Betul kita menulis dengan hati, tapi bagaimana kita menulis dengan hati sekaligus memerhatikan users berinteraksi? Jadi, nantinya tulisan kita tak hanya sekadar bagus, tapi juga dibaca hingga dipahami,” pungkas Yunanto.

(LH)