Iklan Diabaikan Penonton, Teknologi Canggih Akhirnya Muncul

Addiction.id-Jakarta. Dalam lima tahun terakhir, menyoal pengeluaran iklan, TV masih menjadi media pilihan utama bagi pengiklan di Indonesia. Pertumbuhannya pun signifikan, meski pandemi Covid-19 melanda.

Hal tersebut sebagaimana dituturkan oleh Ferry Firdaus di Master Class Citra Pariwara 2020 pada Kamis (10/12).

Ferry kemudian melanjutkan bahwa TV ialah media dengan penetrasi tertinggi di Indonesia. “Kurang lebih 240 juta penduduk di Indonesia menggunakannya. Ini menjadi media dengan penetrasi paling tinggi jika dibandingkan dengan media lain seperti OOH, bioskop atau teater, ataupun juga majalah maupun koran,” terang dia.

Kemudian disusul oleh perkembangan internet yang time spend-nya juga meningkat di masa pandemi ini. Didapati bahwa kebanyakan konsumen internet di Indonesia melihat konten video.

“Ternyata yang paling tinggi itu adalah video konten, itu ada hampir 100%, tepatnya 99%. Di luar video, ada yang namanya vlog, artikel, atau podcast. Tapi video definitely yang tertinggi,” ujar Ferry.

Ferry secara rinci kemudian menyebutkan bahwa konten video yang kebanyakan dilihat justru berasal dari TV.

“Kalau kita lihat trending di YouTube itu selalu bersumber dari konten-konten TV. Kalau di luar negeri itu acara seperti Jimmy Fallon dan Ellen deGeneres. Sementara di Indonesia, genre tertinggi itu berupa sinetron yang range ceritanya selalu tentang cinderella story, juga ada konsep-konsep e-commerce yag beririgngan dengan event harbolnas,” sambung dia.

Untuk di YouTube sendiri ada sekitar 50% konten dari TV, sisanya diisi oleh influencer, YouTuber, dan konten esport. Kemudian belakangan ini, banyak acara yang menggaet bintang-bintang internasional sepeti K-Pop.

“Semua ini menunjukkan konten itu sangat dinamis. Basically the future is here. Pilihan konten ga berubah, tapi teknologi yang berubah.

Lebih lanjut, ia mengatakan saat ini nyaris semua media sudah jadi on demand.

“TV native, di-push ke digital dan digital native juga di-push ke TV. Hal ini ditujukan oleh perusahaan2 internet yang berlomba2 menghabiskan market budget mereka di TV untuk menaikkan grafik. Kita lihat ini adalah gangguan besar di dunia teknologi yang menghabiskan budget marketing mereka di TV,”ujarnya.

“Dari sini kita melihat bahwa perusahaan-perusahaan teknologi juga sangat membutuhkan dan melibatkan TV untuk meraih trafik dan mengembangkan market mereka di indonesia,” sambung Ferry.

Di sisi lain, ia menyangkan bahwa lebih dari 70% audiens merasa terganggu dengan keberadaan iklan di TV, apa pun bentuknya. Kemudian ada sekitar 50% lebih audiens juga tak mau memperhatikan iklan saat muncul di layar TV.

Nah, berangkat dari pengabaian konsumen terhadap iklan itu, kini hadir teknologi yang mengikuti perkembangan konten. “Perkembangan-perkembangan teknologi menjadikan konten brand bisa diintegrasikan pada suatu ruang,” kata Ferry.

“Ini salah satu projek, di mana kita membawa teknologi terbaru, terutama di masa pandemi, menjadi sebuah konten yang menarik, baik itu dalam bentuk virtual atau augmented iirtuality ataupun sebuah hologram,” jelasnya.

Ia kemudian mencontohkan saat pihaknya menghadirkan mendiang Didi Kempot dengan teknologi hologram di acara Smartfren WOW pada Agustus lalu.

“Jadi, teknologi telah berevolusi dan telah mengevaluasi media di indonesia,” pungkasnya.

(LH)