Mahatma Putra: Iklan Dokumenter Harus Timbulkan Emosi dan Perasaan

Addiction.id-Jakarta. Film Director sekaligus Co-Founder Anatman Pictures Mahatma Putra menyampaikan, perasaan dan emosi adalah nilai lebih iklan bermodel dokumenter.

Karena itu, pembuat iklan bermodel dokumenter harus bisa menimbulkan emosi dan perasaan pemeran (narasumber) supaya bisa menyentuh hati penonton.

“Kemudian menangkap emosi yang dilepaskan oleh pemeran,” kata Putra dalam Masterclass ‘Art Of Dokuseries’ yang digelar Citra Pariwara 2020, Kamis 10 Desember 2020.

Supaya emosi tersebut bisa ditangkap, tim kreatif tidak boleh mendikte narasumber untuk berbicara. Biarkan narasumber melepaskan emosinya saat proses wawancara dilakukan.

“Mencari tahu cerita hidupnya dan apa yang ingin diceritakan. Reaksi nyata itu harus dilepaskan. Jadi engga bisa dibuat-buat, seperti menyampaikan pesan dari klien untuk narasumber, kalimat itu akan jadi beda dengan perasaanya,” ujarnya.

Selain itu, supaya tetap sejalan dengan keinginan klien, Putra menyarankan, tim kreatif harus menerjemahkan keinginan klien terlebih dahulu. Kemudian, mentranformasikan hal itu dalam bentuk pertanyaaan.

Setelah dijawab oleh narasumber, tim bisa memilah pernyataan-pernyataan narasumber yang sesuai dengan karakteristik ataupun kebutuhan brand tersebut.

“Jadi engga perlu naskah buat dibaca narasumber. Interview biasa saja, satu jam sampai dua jam. Nanti abis itu dipotong-potong,” katanya.

Putra menambahkan, dalam pembuatan dokumenter juga tidak perlu membuat storyboard. Bagi Putra, penggunaan storyboard akan merusak feeling yang ada.

“Werner Herzok pernah berkata Storyboars are intrument of the cowards,” imbuhnya.

Namun, bukan berarti pembuatan dokumenter tidak memikirkan konsep, ekspetasi, dan tujuan sama sekali. Menurut Putra, hal itu juga perlu dilakukan. Salah satunya dengan mencari narasumber yang memiliki karakter kuat untuk menjadi modelnya.

“Formula pertama adalah melakukan riset dan mencari narsum. Kalau kita dapat karakter yang kuat dan karakter orangnya bagus dengan kebutuhan brand, itu akan gampang banget. Sisanya buat visualisasi,” bebernya.

Dalam proses interview pun, narasumber harus dibuat senyaman mungkin. Jangan sampai narasumber tertekan akibat suasana yang tidak nyaman.

“Untuk mendapatkan kenyamanan, interview dilakukan dengan dua orang saja. Supaya orang bisa lebih terbuka. Dan jangan sering di kritik. Perasaan subjek (narasumber) itu penting, kalau dikritik terus, perasaan subjek engga akan keluar,” jelasnya.

Bagi Putra, membuat sebuah dokumenter menjadi tantangan untuk meramu ide-ide. Pun pembuat dokumenter harus bisa mengamati dan mencoba memahami sudut pandang lain.

“Karena itu, jangan berharap yang sempurna. Kalau itu yang diinginkan kita akan terjebak dalam dunia kita sendiri. Jadi kita cukup mengamati kenyataan dan gimana keadaanya,” pungkasnya.

(HY)