Televisi Masih Menjadi Media yang Paling Diandalkan Untuk Beriklan

Addiction.id-Jakarta. Pemanfaatan televisi sebagai media periklanan masih mendominasi di Indonesia hingga kini. Hal ini dibuktikan dengan data yang dimiliki oleh Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI).

Ketua Umum ATVSI Syafril Nasution merinci bahwa pangsa pasar periklanan Indonesia melalui TV di 2020 memang menurun menjadi 62,5%, jika dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 66,2%. Namun, TV masih menjadi media yang paling diandalkan untuk beriklan.

Baca juga: Kampanye Iklan Daring Kurang Diminati Paslon Pilkada 2020

Untuk diketahui, pangsa pasar periklanan melalui media lain seperti print pada 2020 didapati sebesar 15,2%–menurun dari 20,8% pada 2015, di media online pada 2020 sebesar 19,2%–meningkat dari 9,1% ada 2015, di radio pada 2020 sebesar 1,1%–meningkat dari 0,3% pada 2015.

“TV menjadi pilihan masyarakat untuk tempat menonton. Tentunya hiburan di televisi menjadi tontonan menarik apalagi di daerah. Menurut saya, sampai 15 tahun kedepan TV masih menjadi pilihan utama mendapatkan informasi dan hiburan. Untuk pendapatan dari iklan pasti masih akan mendominasi,” tutur Syafril, Jumat (6/11).

Lebih lanjut, pendapatan iklan di TV pada 2020 yaitu sebesar US$ 1,607 juta, media print sebesar US$ 392 juta, online atau mobile sebesar US$ 491 juta, dan radio sebesar US$ 29 juta.

“Walaupun pangsa pasar iklan di TV menurun pada 2020, tapi televisi masih dominan menguasai iklan,” sambung Syafril.

Menurutnya, banyaknya orang yang menggunakan gadget berkontribusi pada peningkatan pada iklan media online. Ditambah lagi kehadiran pandemi yang mendorong orang beraih ke digital.

Untuk menyiasati hal tersebut, industri TV memilik strategi seperti menguatkan konten dengan memfokuskan segmentasi dan target audiens. Selain itu, industri ini memanfaatkan multiple platform dengan monetisasi konten TV FTA melalui berbagai platform (online), dan juga menyajikan iklan yang inovatif dan kreatif.

“Menghadapi kondisi kedepan dalam suatu masalah kita harus mencari jalan keluar agar televisi bisa terus bertahan ditengah kondisi korona, dan ditengah kondisi masyakarat yang mulai beralih ke online. Di satu sisi bahwa online belum diatur oleh suatu aturan yang jelas. Kalau di TV di kontrol oleh KPI, kita tidak bisa seenaknya menampilkan iklan dan program karena konten di kontrol,” terang.

Syafril pun menambahkan, tentunya perubahan perubahan seperti penguatan konten harus dilakukan, karena orang menonton TV kalau tidak ada konten yang menarik tidak akan ditonton. Untuk menjalankan strategi ini, harus memiliki modal yang kuat untuk menyajikan konten yang baik.

Lebih lanjut, ia menuturkan, TV pun harus memonetisasi konten yang berhubungan dengan platform lain. Dengan begitu, orang bisa melihat acara TV di platform digital. “Tentunya dengan suatu kombinasi iklannya. Saya kira hampir seluruh TV sudah memiliki platform digital. Inilah salah satu cara mempertahankan,” pungkas dia.

(LH)