Diboikot, Produk Perancis di Indonesia Ini Sebetulnya Banyak Beredar

Addiction.id-Jakarta. Ungkapan Presiden Perancis Emmanuel Macron memicu amarah kalangan Muslim di dunia. Hingga akhirnya sejumlah negara dikabarkan memboikot produk Perancis. Demikian pula Indonesia, di mana produk Perancis banyak beredar.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (02/11), nilai ekspor produk-produk Perancis ke Indonesia mencapai US$ 1,68 miliar pada 2018. Di tahun selanjutnya, nilai ekspor produk Perancis ke RI naik menjadi US$ 1,8 miliar atau setara dengan Rp 26,1 triliun (kurs Rp14.500,-).

Kendati begitu, hubungan dagang Indonesia-Perancis tidak sebesar dengan negara-negara Uni Eropa lainnya, seperti Italia dan Jerman.

Adapun produk Perancis yang paling banyak diimpor Indonesia ialah pesawat terbang dan komponennya–yang mencapai lebih dari 45% dari total impor.

Perancis sendiri memiliki perusahaan manufaktur pesawat terbang bernama Airbus yang bermarkas di Toulouse. Berbagai maskapai Indonesia menggunakan pesawat tersebut.

Selain itu, ada pula produk medis hingga bahan baku industri–terutama untuk mesin dan peralatan listrik–yang diimpor dari Perancis.

Lalu produk-produk konsumen seperti minuman beralkohol, air dadih hingga kosmetik dan perawatan diri juga didatangkan RI dari Perancis.

Tak hanya itu, ada pula produk kecantikan asal Perancis yang populer di Indonesia, daitu L’Oreal hingga Garnier.

Sementara, produk makanan ada brand seperti Danone hingga Kraft. Produk brand ini banyak tersebar di minimarket dan supermarket di Indonesia.

Di sektor otomotif pun ada Renault dan Peugeot. Lalu ada juga Total dan Elf di sektor energi.

Untuk produk fesyen, ada brand Louis Vuitton, Chanel, Hermes, Yves Saint Laurent, Lacoste, dan Pierre Cardin.

Menurut data BPS, sepanjang Januari-Juli 2020 nilai total impor dari Perancis mencapai US$ 682 juta. Angka ini turun 17% jila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Adapun senjata dan peluru yang diimpor Indonesia dari Perancis sebanyak 282,029 kg, senilai US$ 71,9 juta. Lalu ada pulp and waste paper 111,8 juta kg, senilai US$ 45,9 juta. Kemudian impor mesin dan motor termasuk suku cadang 699.281 kg senilai US$ 436 juta.

Tercatat pula produk kesehatan dan farmasi sebanyak 681.044 kg, nilainya US$ 33,9 juta. Selain itu, ada kedelai 120.743 kg nilainya US$ 73.370. Lainnya, mentega diimpor 286.790 kg dengan nilai US$ 238 juta.

(LH)