Iklan Harus Patuhi Kode Etik untuk Ikut Ajang Citra Pariwara

Addiction.id-Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya Panitia Citra Pariwara  menekankan bahwa peserta ajang festival menjunjung tinggi   persyaratan  kode etik periklanan

Pada tahun ini festival tersebut tetap digelar kendati pandemi Covid-19 masih merebak. Acara ini rencananya akan dilakukan secara daring.

Ketua Badan Pengawas Periklanan (BPP) P3I Susilo Dwihatmanto menegaskan bahwa kode etik merupakan refleksi bagian dari industri sekaligus pedoman bagi  para pelaku industri periklanan hingga konsumen. Selain itu, lanjutnya, etika ini diperlukan guna menjaga dan melindungi konsumen untuk industri sendiri.

“Setiap entri (atau peserta) harus lulus seleksi etika periklanan sebelum masuk ke tahap penjurian selanjutnya. Jadi, jangan sampai temen-temen yang kreatifnya udah luar biasa bagus malah gugur karena masalah etika. Jangan sampai udah masuk, udah keluar biaya, ternyata ga lolos karena masalah ini,” terang dia, saat di acara Sosialisasi Citra Pariwara ke-33, Rabu (30/09).

Menurut Susilo, tidak ada alasan bagi para pelaku periklanan untuk tidak memahami etika periklanan lantaran Kitab Etika Pariwara Indonesia bisa diakses dengan mudah.

“Yang edisi paling baru, yang muncul 2020 di website P3I sudah ada dan bisa di-download,” ucapnya. 

Susilo kemudian memaparkan sejumlah pasal-pasal yang kerap kali dilanggar pengiklan. Satu yang paling umum dilanggar ialah penggunaan kata superlatif.

“Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif, kecuali jika disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi harus ada penjelasannya berupa survei atau riset dari lembaga independen yang kredibel tentang pencapaian produk,” tuturnya.

Hal itu pun berlaku pula pada penggunaan klaim-klaim tertentu, seperti “100% murni”, “satu-satunya”, dan sebagainya. Kemudian penggunaan kata  “gratis”, “cuma-cuma” atau sejenisnya tidak boleh dicantumkan dalam iklan, jika ternyata ada biaya lain yang harus dibayar konsumen.

Selanjutnya penggunaan kata halal, harus disertai dengan bukti sertifikasi. “Lalu, kata halal tidak boleh dieksploitasi.  Dia hanya diboleh dicantumkan untuk fakta dan informasi,” imbuh Susilo.

Ia mengatakan bahwa label ini tidak dibolehkan jika diandalkan sebagai cerita atau main story iklan.

Perihal iklan tentang obat, harus dicantumkan peringatan “baca aturan pakai” hingga saran untuk datang ke dokter.  

Lalu menyoal pemeran iklan. Seorang anak, utamanya yang berusia di bawah 5 tahun, tidak boleh mengiklankan produk yang tak layak dikonsumsi anak tanpa didampingi orang dewasa. 

Juga, tidak boleh memperlihatkan anak dalam adegan berbahaya, menyesatkan, dan tidak pantas dilakukan oleh anak. Iklan pun boleh menampilkan anak sebagai penganjur suatu program yang bukan untuk anak.

Berikutnya, iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengabaikan segi-segi keselamatan.

“Walaupun ada yang bertujuan untuk menyampaikan pesan keselamatan, tapi tetap ada adegan-adegan berbahaya  ditampilkan di situ,” tambah Susilo.

Selanjutnya, Susilo menekankan bahwa iklan tidak boleh membenarkan kekerasan dengan menampilkan adegan kekerasan.

“Jadi, itu beberapa pasal utama yang mungkin rawan untuk teman-teman. Jika ada pertanyaan, silakan hubungi panitia Citra Pariwara atau saya secara langsung,” tutupnya.

(LH)