P3I Minta Pemerintah Sosialisasikan Soal Kental Manis Bukanlah Susu

Addiction.id-Jakarta. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemkes) untuk membuat iklan layanan masyarakat yang menegaskan bahwa susu kental manis bukanlah susu.

Menurut Sekretaris Jendral Hery Margono, hal tersebut guna mengimbangi pemahaman masyarakat yang sudah mengakar soal kental manis itu adalah susu.

“Sosialisasinya harus gencar dilakukan untuk membuat kesadaran masyarakat secara kolektif. Karena persepsi orang selama ini sudah menganggap kental manis itu adalah susu. Harusnya pemerintah yang mesti kerja keras. Sosialisasi pemerintah juga harus menerangkan bahwa yang benar-benar dikatakan susu itu seperti apa,” terang Hery, dilansir dari Berita Satu, Jumat (02/10).

Hery pun menyebut BPOM melibatkan banyak pihak untuk membuat iklan semacam itu. Sebab BPOM belum tentu memahami semua permasalahan yang ada. Terlebih untuk memberi pemahaman ke masyarakat bahwa kental manis bukan susu. Tentu saja mengubah kesadaran kolektif masyarakat soal kental manis itu bukan susu tidaklah mudah.

“Untuk membuat iklan yang etis dan mendidik itu tidak bisa dilakukan oleh BPOM sendiri. Sangat dibutuhkan pentahelix, dimana BPOM harus kerja sama dengan akademisi, media, komunitas masyarakat, dan swasta, supaya sosialisasi yang dilakukan melalui iklan layanan masyarakat itu bisa menunjukkan hasil,” jelas Hery.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaparkan bahwa kental manis dibuat melalui proses evaporasi atau penguapan dan biasanya memiliki kandungan protein yang rendah. Setelah itu, kental manis juga diberi gula tambahan. Hal ini menyebabkan kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mengakui persepsi bahwa kental manis adalah susu telah tumbuh lama. Tak ayal bila masyarakat masih terus mengonsumsi kental manis sebagai minuman pengganti susu pada anak-anak.

“Oleh karenanya, kami pun meminta agar BPOM menegakkan aturan terkait produk SKM dan cara produsen beriklan di media,” tandasnya.

(LH)