Diboikot Pengiklan Karena Adanya Konten Berbahaya, Platform Izinkan Audit

Addiction.id-Jakarta. Sejumlah pengiklan memboikot Facebook, YouTube, dan Twitter lantaran maraknya konten berbahaya di platform tersebut. Misalnya, ujaran kebencian.

Menanggapi hal tersebut, ketiga platform mengizinkan pihak luar mengaudit cara mereka menangani konten berbahaya.

Federasi Pengiklan Dunia (The World Federation of Advertisers/WFA) memaparkan kesepakatan dengan platform yang akan mengadopsi standar pelaporan konten berbahaya itu.

Kesepakatan itu mengharuskan platform menjalani audit independen tentang bagaimana mereka mengategorikan, melaporkan, dan menghapus konten berbahaya. Hal ini ditujukan guna melakukan tinjauan pada akhir tahun.

Tak hanya itu, platform pun diminta mengembangkan sistem yang memberi pengiklan kontrol lebih besar atas konten yang muncul di dekat brand mereka.

“Sebagai penyandang dana ekosistem online, pengiklan memiliki peran penting dalam mendorong perubahan positif dan kami senang telah mencapai kesepakatan dengan platform tentang rencana aksi dan jadwal,” ungkap CEO WFA Stephan Loerke dalam sebuah pernyataan, Kamis (24/09).

Telah bertahun-tahun pengiklan mengeluhkan tentang iklan mereka yang muncul berdekatan dengan konten rasis atau kekerasan di media sosial. Karenanya, iklan di YouTube diboikot para pengiklan.

Kekhawatiran kian meningkat setelah pembunuhan George Floyd. Beberapa bulan lalu sejumlah perusahaan terbesar dunia–seperti unilever, Adidas, Coca-cola, dan sebagainya, memboikot Facebook karena gagal mencegah penyebaran ujaran kebencian.

Kasus Facebook yang Ditolong Pengiklan Bisnis Kecil

Diketahui, sikap perusahaan-perusahaan itu kemudian menjatuhkan harga saham Facebook dan mendorongnya untuk melakukan audit dan perbaikan.

Selama ini, Facebook menghasilkan US$69,7 miliar atau sekitar Rp975,8 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per USD) dari iklan pada 2019, atau lebih dari 98% dari total pendapatan tahun ini. Sebagian besar pemasukan iklan itu datang dari bisnis berskala kecil dan menengah (UKM).

Berdasarkan data dari Pathmatics, Facebook memiliki 8 juta pengiklan di awal tahun ini. Seratus di antaranya merupakan pengiklan brand papan atas, dengan belanja iklan tertinggi hanya US$4,2 miliar terhadap pendapatan iklan Facebook tahun lalu (6% dar total pendapatan iklan).

Pada April 2019, Facebook membagikan data tersebut. COO Sheryl Sandberg menuturkan bahwa 100 pengiklan teratas berkontribusi kurang dari 20% total pendapatan iklan.

Sementara itu, seorang analis di eMarketer Nicole Perrin mengatakan sebagian besar klien pengiklan Facebook ialah usaha kecil. “Mereka (Facebook) kelas sangat bergantung pada ekor panjang pengiklan bisnis kecil,” ungkapnya.

Tak heran, saat Facebook diboikot pengiklan besar, masih banyak pengiklan yang melindunginya dari kejatuhan finansial.

(LH)