Sikap YouTube Atasi Pembuat Konten Penebar Hoaks

Addiction.id-Jakarta. Beberapa waktu lalu, warganet digemparkan oleh misinformasi yang disebarkan Anji dan nara sumbernya Hadi Pranoto di YouTube. Keduanya saat ini tengah diperiksa polisi.

Mengenai maraknya pembuat konten yang misinformasi, pihak YouTube mengatakan pihaknya mendapati bahwa di berbagai negara, hoaks dan misinformasi rupanya muncul di berbagai negara. Topik yang paling sering muncul yaitu terkait saran kesehatan, namun tanpa basis ilmiah atau ilmu kedokteran.

“Kami meminta agar para content creator hati-hati dalam bicara. Kita punya content policy dan petunjuk jelas video macam apa yang melanggar aturan kita. Para kreator harusnya melihat itu dulu,” ujar PM Director Trust & Safety Youtube, Jennifer Flannnery O’Connor, Kamis (04/09).

YouTube memaparkan, dari total konten yang ada, 1% di antaranya berbahaya. Mereka menandai konten yang misinformasi, yang justru merugikan si pembuat konten itu sendiri. Konten mereka akan ditandai (flagged) oleh YouTube, sehingga tidak bisa dimonetisasi dan akhirnya dihapus.

“Termasuk misalnya pejabat yang salah ngomong, itu juga akan kita hapus,” imbuh Jennifer.

Sebagai informasi, YouTube kini memiliki protokol yang dinamakan 4R: Remove, Reduce, Raise dan Reward. Dua yang pertama untuk konten negatif, dua yang terakhir untuk konten yang positif.

VP Product Management Youtube Woojin Kim mengingatkan, seluruh YouTuber menjadi pihak yang bertanggung jawab.

“Review dulu sebelum publish. Itulah yang kita minta dari setiap konten agar user tidak melanggar aturan. Makanya ada machine based detection, jadi bisa langsung dikategorikan apa oke atau harus dioper ke human review,” imbau Kim.

Kendati begitu, masih ada pembuat kontem yang sembunyi-sembunyi agar kontennya lolos dari pantauan YouTube. Padahal kontennya hoaks atau misinformasi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, YouTube memperkuat tim pemantau gabungan mesin dan manusia.

“Kita gabungkan mesin dan manusia. Kita punya tim yang tersebar di seluruh negara dengan berbagai kemampuan bahasa dan pemahaman isu-isu khusus. Kualitas reviewer juga dinilai seiring waktu. Banyak reviewer yang sekarang kerja dari rumah karena COVID-19, tapi mereka memantau terus,” kata Kim.

Kim menjelaskan, isu Covid-19 cepat berubah dan selalu berkembang.

“Situasi COVID-19 berubah terus dan strategi kami mengandalkan pakar. Beda negara, beda perspektif dan rekomendasi. Jadi kami juga lihat Kemenkes tiap negara juga dan kita lokalisasi isunya di setiap negara,” tandasnya.

(LH)