Pelanggaran Iklan Paling Banyak Terjadi di Internet Saat Pandemi

Addiction.id-Jakarta. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut bahwa media di internet paling banyak melakukan pelanggaran iklan produk pangan dan farmasi selama pandemi Covid-19.

Berdasarkan laporan BPOM pada Kamis (27/08), jumlah pelanggaran di internet sebesar 74%. Persentase ini menunjukkan bahwa pelanggaran di internet ini paling besar dibanding media lainnya.

“Pada masa pandemi Covid-19 karena kebijakan untuk tetap di rumah telah dicanangkan. Sehingga masyarakat lebih mudah mengakses segala informasi melalui media internet seperti media sosial, marketplace dan lain-lain,” ungkap Kepala BPOM Penny Lukito, dikutip dari Antara, Kamis (27/08).

Ia melanjutkan, pelanggaran iklan itu disusul televisi yang mencapai 13%. Kemudian media cetak 6% dan media luar ruang 5%.

Untuk mengatasi hal itu, Penny mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan 40.496 rekomendasi penutupan platform situs, media sosial, serta e-commerce, kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA).

“Dari jumlah tersebut, 1.643 di antaranya adalah link/situs terkait pangan olahan,” imbuhnya.

Penny mengakui, internet memang sangat mudah diakses oleh masyarakat. Tak ayal bila iklan produk di media ini sangat mudah diakses. Namun justru banyak pelanggaran di situ.

Ditambah lagi, terdapat peningkatan tren belanja daring selama masa pandemi, dengan persentase mencapai 42%, berdasarkan Survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2020.

Penny menegaskan pihaknya akan terus memastikan produk yang beredar, terutama melalui internet, agar tetap melakukan pengawasan. Hal ini guna meningkatkan keamanan pangan.

(LH)