Bahaya Munculnya Iklan Pornografi di Platform Belajar Anak

Addiction.id-Jakarta. Selama pandemi Covid-19 masih melanda, kegiatan belajar siswa dialihkan ke digital melalui internet. Hal ini membuat siswa lebih sering berinteraksi dengan gawainya. Oleh karena aksesnya begitu mudah, hal ini tidak memungkiri anak bisa terpapar konten pornografi.

Terbukti, sempat muncul iklan berbau pornografi di laman soal-soal siswa pada blog belajar anak, Gurubp.com.

Laman tersebut tidak dapat diakses atau diblokir setelah diprotes oleh sejumlah masyarakat, Jumat (14/08). Di laman ini muncul keterangan bahwa laman  tidak bisa diakses karena memuat konten pornografi.

Namun, melalui VPN, laman itu bisa diakses. Di halaman utama situs, terdapat keterangan bahwa iklan dalam situs tersebut dihapus.

“Agar lebih bersahabat dan pantas untuk dibaca oleh anak usia sekolah dasar, maka iklan di blog ini sengaja dihapus. Mohon maaf dan terima kasih atas kritik dan sarannya,” tulis administrator pada tampilan muka di Gurubp.com.

Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah mengaku pihaknya telah menerima pengaduan dari masyarakat yang merasa resah dengan konten tersebut.  “Kita sudah tindaklanjuti,” ucap Margaret, Jumat (14/08).

Margaret menegaskan agar konten negatif tersebut, seperti iklan berbau pornografi, harus dihilangkan. Sehingga anak-anak bisa terhindar dari paparan konten semacam itu.

Pihak KPAI sungguh menyayangkan munculnya konten tersebut di dalam laman khusus belajar daring untuk siswa. Diketahui, konten yang muncul berupa iklan pop-up.

“Peran sangat penting adalah pendampingan orang tua terhadap anak dalam penggunaan gadget, termasuk dalam proses pembelajaran jarak jauh melalui daring agar anak dapat terhindar dari konten negatif/pornografi dan berbagai kejahatan siber,” terang Margaret.

Ia pun berharap, guru bisa memberi informasi tentang literasi digital kepada orang tua dan murid agar terhindar dari berbagai konten negatif di internet. Khususnya dalam pendampingan pembelajaran jarak jauh.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) Azimah Subagijo menuturkan bahwa  banyaknya waktu yang dihabiskan di rumah membuat orang lebih banyak menggunakan gawai–seperti belajar, bekerja, bahkan untuk sekadar hiburan. Hal ini ternyata berimbas pada  naiknya akses pornografi di sejumlah tempat.

Menurut statistik situs porno terkenal di dunia, lanjutnya, akses terhadap situs porno di beberapa negara naik, bahkan ada yang hingga 57%.

Selain itu, statistik pun menunjukan bahwa akses pornografi di masa pandemi ini naik drastis pada pagi dan siang hari. Belum lagi, ada 15 juta pencarian pornografi yang mengandung kata kunci terkait ‘Corona’ dan ‘Covid’, serta 1.000 video porno bertemakan ‘Corona Virus’ saat ini telah ditonton lebih dari 1 juta orang.

Azimah mengatakan, hal tersebut menghawatirkan, mengingat banyak pelajar yang menggunakan gawai dan akses internet untuk belajar online. Termasuk  daam mengarjakan tugas dari sekolah terkait corona atau Covid-19. “Kondisi ini rentan memicu mereka terpapar pornografi karena tidak sengaja” ucap Azimah.

Untuk mengantisipasi hal itu, Azimah mendorong pendampingan dari orang tua dan peningkatan komunikasi dengan guru. Hal ini demi mengantisipasi para pelajar bila terpapar pornografi, terutama jika pelaksanaan pembelajaran jarak jauh akan diperpanjang.

Tak hanya itu, penyadaran tentang bahaya pornografi kepada masyarakat, khususnya pelajar, harus dilakukan secara masif.

(LH)