Pendapatan Iklan dan Trafik Penonton Menurun di YouTube

Addiction.id-Jakarta. Sejumlah YouTuber dari mancanegara melaporkan penurunan trafik penonton dan iklan dari AdSense di laman Support Google. Di antaranya ada yang mengaku mengalami penurunan sejak awal 2020 dan ada pula yang mengalaminya sejak munculnya pandemi Covid-19.

Kendati begitu, ada yang mengaku jumlah penontonnya stabil atau justru meningkat. Tak hanya soal jumlah penonton, beberapa YouTuber mengeluhkan pendapatannya menurun.

Menyoal hal tersebut, YouTube belum memberi jawaban resmi. Para YouTuber menduga salah satu penyebabnya yakni berkurangnya iklan.

Diketahui, YouTuber memperoleh pendapatan dari penonton yang melihat iklan sampai tuntas di videonya. Iklan dihitung berdasarkan CPM (cost per mile) atau komisi per 1.000 penonton.

Para pengiklan biasanya berlomba-lomba memasang harga agar iklannya terpampang di video YouTuber. Semakin banyak iklan yang masuk, penawaran bisa semakin tinggi lantaran sengitnya kompetisi. Sebaliknya, semakin sedikti pengiklan, penawaran juga akan berkurang karena minimnya kompetisi antarpengiklan.

Namun, saat ini banyak pengiklan yang  menyetop iklannya dengan alasan penghematan anggaran.

Carlos Pacheco, salah satu konsultan YouTube yang membantu 180 kanal YouTube dengan total hampir 68 juta subscriber, menuturkan bahwa rate pengiklan turun rata-rata hampir 50% sejak awal Februari.

“Semua orang menyetop iklan mereka di YouTube,” kata Pacheco. Padahal trafik penonton di YouTube justru meningkat sebesar 15% terhitung dari Januari-April 2020, dikutip dari New York Times.

Merosotnya ekonomi global berdampak terhadap perusahaan besar dunia. Sehingga, banyak brand yang menghemat di bisnis iklan.

Selain menurunnya pengiklan, YouTube dikabarkan merombak algoritmanya.

Perwakilan YouTube Ivy Choi megakui bahwa pihaknya memang mengotak-atik algoritma. “Kami membuat ratusan perubahan setiap tahunnya untuk memudahkan orang menemukan apa yang mereka cari di YouTube,” kata Choi.

“Baru-baru ini kami baru saja membuat satu perubahan untuk meningkatkan konten keluarga yang lebih berkualitas,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7).

Diketahui, sejak pertengahan tahun lalu, platform ini membuat resah para kreator karena mengubah kebijakan monetisasi. Kebijakan ini disesuaikan dengan undang-undang pelindungan data anak online Amerika Serikat (Children’s Online Privacy Protection Act/COPPA).

Adapun YouTube ingin memastikan kepada orangtua bahwa platform miliknya aman bagi anak-anak. Sebelumnya, YouTube dikritik lantaran banyak video yang tidak sesuai untuk anak, atau berbau eksploitasi anak, berkeliaran di dalamnya.

(LH)