Perusahaan di Masa New Normal

Addiction.id-Jakarta. Pada 5 Juni 2020, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memutuskan untuk melonggarkan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Wilayah ini kini tengah menjalani masa transisi atau masa new normal.

Perusahaan dan kantor yang menerapkan kerja dari rumah (WFH) akhirnya dibolehkan menerapkan kerja dari kantor (WFO). Namun, berdasarkan keputusan Pemda, hanya 50% dari jumlah total pekerja yang boleh hadir di kantor.

Aturan tersebut tentu saja menjadi pangkal tolak perusahaan industri periklanan dalam menjalankan bisnis.

“Sampai hari ini, kita mengatur kehadiran 50:50, team A dan team B masuk bergantian setiap satu minggu, namun tetap ada fleksibilitas untuk bekerja dari rumah,” ujar Janoe Arijanto, CEO Dentsu One–salah satu agensi periklanan yang berbasis di Jakarta, Rabu (01/07). 

Janoe mengatakan bahwa kini agensinya sudah melakukan WFO. “Meski terbatas, kita sudah mulai bisa shooting atau meeting offline, dengan mematuhi protokol new normal yang resmi,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjut dia, pihak agensinya, menyadari bahwa setiap orang memiliki situasi yang berbeda: ada yang memiliki resiko tinggi dan rendah.

“Jadi, prakteknya masih banyak yang bekerja di rumah. Meski begitu, pekerjaan tetap berjalan. Memang ada beberapa klien yang berhenti beberapa saat, menunda launching, dan meniadakan event. Tapi, banyak juga yang melakukan kegiatan secara terbatas, salah satunya event secara online,” sambungnya.

Di industri ini, lanjut Janoe, ada saja klien yang berhenti berbisnis untuk sementara, serta menunda event dan launching. Tak heran bila penurunan revenue terjadi.  Namun, ada beberapa menyiasati situasi ini dengan beralih ke digital.

“Sehingga, wajar jika revenue dari media digital justru naik. Dari sini kita bisa melihat, proses transformasi digital memang harus dipercepat,” lanjut dia.

“Ke depannya, agensi harus lebih agile dan adaptif, melengkapi bisnisnya dengan portfolio bisnis, produk dan service lebih beragam. Karena, situasi yang tidak pasti ini tidak selesai dalam waktu yang cepat,” harapnya.

Sementara itu, Direktur PricewaterhouseCoopers (PwC) Daniel Rembeth menuturkan bahwa pihaknya masih melakukan WFH dan masih merumuskan bagaimana sebaiknya bekerja.

Diketahui, PwC merupakan perusahaan penyedia jasa konsultan bisnis untuk perusahaan.

Salah satu alasan WFH masih diberlakukan ialah perusahaan ini mengakui bahwa karyawannya adalah aset terbesar.

“Sebagai konsultan, aset terbesar kita kan karyawan. Karyawan itu mesti dijaga jangan sampai kenapa-kenapa. Jadi, kami sangat menjaga kesehatan karyawannya. Memang kita sengaja begini untuk menjaga agar tidak ada temen-temen dan kolega yang terjangkit. Pemerintah boleh mengatakan new normal, tapi kita masih mempertimbangkan sampai kapan kita mulai bekerja di kantor,” jelasnya.  

Lebih lanjut, ia mengaku optimis bisnisnya–juga yang lain–akan membaik, seiring para klien mulai berkegiatan kembali.

“Memang saat PSBB, penurunan bisnis sangat tajam. Lalu saat new normal, karena klien memiliki kegiatan lagi, bisnis PwC pun picking up lagi. Jadi, walaupun WFH, kami juga masih bekerja seperti biasa. Bahkan meeting bisa sampai jam 9 malam,” jelasnya.

Daniel merasa beruntung dengan keberadaan teknologi. “Selain tidak kecapekan karena jalan ke kantor, saya juga berharap kita bisa berbisnis dengan lebih efisien,” harapnya.

“Pandemi ini juga mengajarkan kita untuk berbisnis lebih efisien dengan mengandalkan teknologi,” tutup dia.

(LH)