Dampak Corona, Salah Satunya Media Cetak Bisa Mati

Addiction.id-Jakarta. Banyak pelaku industri periklanan memangkas pengeluarannya akibat pandemi virus corona SARS-CoV-2, yang berujung pada krisis ekonomi.

Pemangkasan itu berdampak pada industri media yang selama ini mengandalkan pendapatan dari ongkos iklan, untuk menyokong kegiatannya. Hal ini pun diakui oleh wartawan senior Endy Bayuni.

Endy mengatakan bahwa saat ini pendapatan media menurun drastis.

“Media kita mungkin tahu, kita bisa WFH bisa mengadakan jumpa pers online. Tapi yang terjadi adalah juga pendapatan media yang mengandalkan dari iklan. Perusahaan-perusahaan yang saat mereka memotong iklan. Itu pengaruhi bisnis media,” jelas Endy dalam konferensi virtual Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Jumat (12/6), dikutip dari CNN Indonesia.

Media cetak saat ini semakin tergerus oleh media online. Endy menduga,  media cetak akan tutup jika kondisi pandemi Covid-19 terus berlanjut.

“Yang cetak itu menghitung bulanlah, kalau tidak minggu, sebelum kita harus tutup. Karena permintaan penerbitan cetak sangat berkurang. Orang mengandalkan informasi dari online,” lanjutnya.

“Jadi kalau bicara bisnis media itu sangat menyedihkan, saya bisa mengatakan itu ya,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Endy mengatakan bahwa sektor swasta masih menunggu arahan, kebijakan dan strategi pemerintah pasca Covid-19. Namun ia mengaku belum melihat strateginya.

“Kita bicara new normal tapi kita belum melihat strategi. Saya lihat strateginya kembali ke yang lama [sebelum pandemi]. Kita beum tahu mau ke mana” kata Endy yang sekaligus sebagai Dewan Pengawas Facebook.

Ia mencontohkan bahwa Uni Eropa sudah berinvestasi 875 miliar euro untuk bangun kembali industri.

“Sehingga Eropa bisa bertahan mandiri. Terutama mereka ingin kurangi ketergantungan terhadap produk Cina. Mereka juga akan ajukan investasi di industri yang ramah lingkungan. Jadi arahnya jelas dan sektor privat bisa mengikuti irama arahan atau strategi pemerintah,” tutup Endy.

LH