Pemuka Agama Dilarang Mengiklan Produk Komersil

Addiction.id-Jakarta. Di Indonesia, tokoh agama mayoritas seperti ustadz kerap kali dimanfaatkan untuk mengiklan suatu produk. Jika berpedoman pada Etika Pariwara Indonesia (EPI), hal ini  melanggar etika.

Ketua Badan Pengawas Periklanan – Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (BPP-P3I) Susilo Dwihatmanto mengatakan bahwa pemuka agama tidak boleh memasarkan produk. Demikian pula pejabat negara, dan segala macam profesi, seperti dokter, hakim, dan polisi.

“Alasan utama hal itu tidak dibolehkan karena mereka overpower. Mereka kan punya kekuatan, punya massa. Kalau mereka mengajak orang, pemirsa cenderung tidak punya pilihan, karena pemirsa patuh pada atasan, patuh pada dokter, patuh pada pemuka agama, tanpa adanya sikap kritis pada brand tersebut. Nah, itu yang jadi masalah,” jelasnya, saat dihubungi Addiction, Jumat (15/5).

Ia menjelaskan bahwa aturan itu sudah tertuang pada EPI.  Aturan yang dimaksud tercantum pada bagian Tata Krama bagian Pemeran Iklan poin 3.5.  yang berbunyi: “Tokoh agama tidak boleh menjadi pemeran iklan komersial, maupun iklan layanan masyarakat dari sesuatu korporasi.

Adapun tokoh agama yang dimaksud adalah sosok atau tokoh yang diakui oleh masyarakat sebagai guru agama, uztad, kiai, pastur, pendeta, pemimpin pondok pesantren, ulama atau yang memiliki hubungan langsung dengan otoritas keagamaan.

“Sepanjang tidak menyebut nama brand, pemuka agama dan lainnya itu tidak masalah. Kalau iklan pelayanan masyarakat tidak mungkin bawa brand ya, kecuali di bagian terakhir sebagai sponsor. Misalnya, ‘acara ini dipersembahkan oleh apa’. Tapi kalau dia di iklan pelayanan masyarakat itu jadi aktor megang botolnya sambil memasarkan, itu gak boleh,” katanya.

Lebih lanjut, Susilo membeberkan sejumlah iklan yang melanggar etika. Ia mengatakan ada sejumlah iklan yang secara langsung menampilkan ustadz yang mengiklankan produk komersil. Dua di antaranya, kata dia, merupakan produk minuman.

Kemudian contoh lain, di salah satu acara di saluran TV. Ia mengatakan ada suatu acara pengajian yang di dalamnya ada tokoh agama yang memasarkan produk. Tokoh agama ini menyebut keunggulan produk dan sebagainya.

“Ini yang jadi masalah. Kadang iklannya bukan iklan. Jadi dia itu masuk jadi program. Misalnya, ada program pengajian. Begitu mau menutup atau menjeda program, tokoh agama ini tiba-tiba ngomong keunggulan produk dan lainnya,” katanya.

Menurutnya, jika produk ini hanya sebatas sponsor tidak masalah.

“Kalau panitia acaranya yang ngomong ‘acara ini disponsori ini’ ya gapapa, karena mereka bukan siapa-siapa. Yang penting bukan ulama atau ustadznya yang ngomong. Ini khusus di event ya,” terang Susilo.

(LH)