Peluang Pengiklan di Area Digital Saat Pandemi

Addiction.id-Jakarta. Pandemi virus Corona (SARS-CoV-2) membuka peluang tak terduga bagi para pengiklan di area digital. Hal tersebut sebagaimana hasil studi agensi kreatif We Are Social and Hootsuite, pemain global di manajemen media sosial.

Digital 2020: April Global Statshot Report, yang ditulis oleh Simon Kemp, menunjukkan bahwa biaya iklan digital tampaknya menurun lantaran audiensi cenderung lebih mudah melihat iklan, sebagaimana dikutip dari AdNews, Senin (27/04).

Namun, laporan itu juga menyebut sebagian besar pemasar cenderung memangkas anggaran iklan mereka. Tindakan ini dirasa perlu dan merupakan konsekuensi dari kesengsaraan ekonomi yang sedang terjadi.

“Tren ini menunjukkan bahwa—jika Anda dapat mengamankan anggaran—peluang saat ini yang ditawarkan oleh iklan digital mungkin sangat menarik, terutama dibandingkan dengan kinerja pra-pandemi,” tulis Kemp.

Kemp mengutip laporan selama beberapa pekan terakhir tentang tekanan yang signifikan pas biaya iklan digital.

The Wall Street Journal dan Digiday mengutip berbagai sumber yang melaporkan bahwa biaya tayangan iklan di Facebook, Instagram, dan YouTube menurun 15% hingga 20% antara Februari dan Maret.

“Lalu, sebuah artikel di New York Times mangatakan bahwa penurunan mungkin lebih cepat. Satu sumber artikel ini melaporkan telah terjadi penurunan antara 35% dan 50% terkait biaya tayangan iklan Facebook.

Facebook mengaku tidak memonetisasi banyak layanan kendati pihaknya telah melihat peningkatan audiensi yang menggandrungi iklan. Pun mengakui adanya pelemahan pada bisnis iklannya, terlebih di negara-negara mengambil tindakan agresif untuk mengurangi penyebaran COVID-19.

Penelitian dari GlobalWebIndex menunjukkan bahwa lebih dari 51% konsumen menyetujui brand tetap beriklan seperti biasa, meskipun terjadi krisis selama pandemi.

Temuan ini didukung oleh penelitian dari Kantar, yang menemukan bahwa hanya 8% orang percaya bahwa perusahaan harus berhenti beriklan. Sementara, hampir dua pertiga 64% berpendapat brand bisa melanjutkan pengiriman pesan komersial.

Namun, penelitian dari Edelman itu menemukan bahwa satu dari tiga konsumen telah menghakimi brand yang dianggap buruk.

Kemp kemudian mengatakan brand harus berhati-hati jika mereka beriklan selama krisis. “Yang terpenting, brand perlu menunjukkan empati, kasih sayang, dan sensitivitas,” katanya.

“Masa ini merupakan waktu untuk memikirkan bagaimana perusahaan Anda dan produk-produknya dapat benar-benar membantu orang lain di saat mereka membutuhkan. Penekanannya haruslah memecahkan masalah, bukan menjual produk,” lanjut Kemp.

“Bisa saja membahasa perihal memproduksi produk dan layanan, namun secara aktif membantu mengatasi masalah saat ini. Seperti Burberry membuat peralatan pelindung pribadi untuk praktisi medis garis depan, atau LVMH mengubah pabrik wewangiannya untuk memproduksi pembersih tangan untuk rumah sakit Prancis,” ujarnya.

Sesuatu yang sederhana seperti membuat konten untuk membantu orang sehari-hari mencapai tujuan mereka sendiri, sambung Kemp, juga dapat menambah nilai yang berarti.

GlobalWebIndex menemukan bahwa video tutorial menjadi konten teratas yang diinginkan konsumen selama krisis COVID-19.

Lebih lanjut, Kemp mengatakan bahwa brand harus sangat berhati-hati dalam hal penggunaan humor.

Kendati begitu, GlobalWebIndex justru menemukan bahwa banyak orang mendambakan konten ‘lucu’ lebih banyak. Temuan ini berfokus pada format hiburan khusus seperti acara TV.

Sementara Edelman menemukan bahwa 57% konsumen berpikir bahwa brand harus menghentikan kegiatan pemasaran yang ‘lucu atau terlalu ringan’ di masa pandemi. (LH)