Twitter Membagi Data Pribadi Pengguna Kepada Pengiklan

Addiction.id-Jakarta. Twitter menghapus fitur privasi yang memungkinkan semua pengguna berhenti berbagi informasi pribadi dengan pengiklan. Diketahui, pengaturan ini mencegah Twitter berbagi informasi seperti iklan yang pengguna lihat atau melacak ponsel.

Bagi sebagian besar pengguna, kini informasi probadi itu akan dibagikan secara default dan tidak dapat dimatikan, dikutip dari The Verge, Rabu (8/4).

Pihak Twitter mengatakan, data yang dibagikan digunakan untuk menunjukkan kemanjuran mengiklan di Twitter. Melalui data ini, Twitter bisa membuktikan bahwa penggguna benar-benar menonton, berinteraksi, dan melihat iklan yang dibayar oleh pengiklan–yang menyokong perusahaan terus beroperasi sebagai layanan gratis.

Opsi di pengaturan privasi Twitter, ‘Bagikan data Anda dengan mitra bisnis Twitter’, memungkinkan pengguna menonaktifkan berbagi informasi yang disebutkan tadi. Pengaturan itu memang masih ada, namun Twitter mengaku telah menghapus kendali pengguna atas “pengukuran iklan aplikasi seluler.”

Selain itu, pengaturan masih bisa dinonaktifkan demi mencegah berbagi informasi lain, seperti minat pengguna. Pengaturan privasi Twitter lainnya pun masih tersedia, seperti menonaktifkan pelacakan web. Twitter tidak akan membagikan nama, alamat email, nomor telepon, atau nama pengguna Anda.

Ada satu set pengecualian: data tersebut akan tetap dirahasiakan bagi pengguna Twitter di Uni Eropa, Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa, dan Inggris. Mereka masih bisa memilih informasi mana yang akan dibagikan.

Twitter memberi tahu pengguna akan perubahan dengan pop-up ketika mereka membuka aplikasi mulai sekitar 11.00 waktu setempat, Rabu (9/4).

“Pembaruan itu merupakan bagian dari pekerjaan kami yang sedang berjalan, yakni seputar transparansi dan kontrol. Kami ingin memastikan bahwa orang memahami pengaturan yang kami berikan, apa yang mereka lakukan, dan bagaimana menggunakannya,” ujar juru bicara Twitter. Bahkan pengguna yang tidak menonaktifkan pengaturan berbagi data pun menerima peringatan itu.

Ketersediaan data iklan telah berdampak besar pada penghasilan Twitter di masa lalu. Tahun lalu, Twitter menyalahkan hilangnya pendapatan atas “bug”–yang menghalanginya menggunakan dan berbagi data iklan dengan benar. Pada saat yang sama, Twitter menyebutkan bahwa “bug” juga menjadi penyebab perusahaan mengabaikan sejumlah pengaturan pengguna dalam mencegah data tertentu dibagikan.

Sementara Twitter tidak menghapus pengaturan itu secara menyeluruh, perubahan hari ini tampaknya menunjukkan bahwa Twitter memiliki lebih banyak kontrol. (LH)