Pengeluaran Iklan Global Terpukul Akibat Wabah Virus Corona

Addiction.id-Jakarta. Wabah virus corona berdampak pada sektor perekonomian. Media dan periklanan termasuk di dalamnya. Menurut eMarketer, pada skala global, menurunnya pertumbuhan periklanan nampak disebabkan oleh COVID-19, dikutip dari wwd.com pada Jumat (13/3).

Pengeluaran iklan di skala global diperkirakan menjadi $ 691,7 miliar, turun dari perkiraan sebelumnya $ 712 miliar. Namun, hal ini bisa menjadi lebih buruk jika Olimpiade Musim Panas 2020 di Jepang dibatalkan atau ditunda. Peneliti eMarketer berasumsi bahwa acara akan berjalan sesuai rencana, meski banyak acara internasional dibatalkan setiap hari.

“Pembatalan proyek terutama disebabkan oleh satu negara: Cina,” lanjut peneliti perusahaan itu.

Negara yang merupakan pasar pertumbuhan untuk media dan iklan yang dipimpin oleh platform digital itu, eMarketer mengatakan, total pengeluaran media akan turun menjadi sekitar $ 113,7 miliar, dari perkiraan sebelumnya yakni $ 121,1 miliar. Tingkat pertumbuhan periklanan Cina juga diproyeksikan menurun menjadi 8,4% dari 10,5% awal. Diketahui, Cina adalah pasar iklan terbesar kedua, setelah Amerika Serikat (AS).

“Terlepas dari peningkatan konsumsi media digital di Cina, karena konsumen mencoba untuk tetap terhibur dan mendapat informasi di rumah, pengiklan enggan untuk menghabiskan anggaran, jika guncangan di rantai pasokan menghambat mereka memasarkan produk ke pasar,” jelas eMarketer.

Setelah sebagian besar pekerja di Cina dikarantina, masyarakat dalam kesehariannya cenderung menghabiskan waktunya untuk internet seluler. Penggunaan internet seluler ini meningkat hampir tujuh setengah jam. Hal itu sebagaimana hasil penelitian QuestMobile.

Menurut data Nielsen, waktu untuk menonton TV pun meningkat, hampir delapan jam sehari. Sementara, sebelumnya sekitar enam jam selama jangka waktu yang sama tahun lalu.

Belum tahu pasti kapan wilayah terdampak wabah COVID-19 akan mulai membaik, kendati sudah ada beberapa tanda stabilisasi di Cina. Namun, pengiklan tetap berhati-hati dan lebih banyak mengambil pendekatan menunggu dan melihat. Dan setidaknya di kota-kota besar Cina, seperti Beijing, Shanghai dan Guangzhou, konsumen mengharapkan situasi bertahan setidaknya empat bulan lagi. Demikian menurut laporan ReHub pada akhir Februari.

eMarketer mengatakan iklan digital di Cina akan tumbuh sebesar 13%, turun dari ekspektasi awal lebih dari 15%–bahkan sebelum ada wabah virus corona.

Pengiklan diharapkan untuk mengurangi pengeluaran iklan. Tujuannya untuk mengimbangi dampak keuangan–dari masalah rantai pasokan global yang disebabkan oleh penutupan regional–karena wabah virus corona.

eMarketer berpendapat, Amazon akan menjadi salah satu platform yang mungkin paling merasakan efek langsung dari penarikan iklan seperti itu. Terutama bagi penjual pihak ketiga yang lebih kecil.

Bidang lain dari periklanan yang bisa terkena dampak adalah “di luar rumah”– seperti papan iklan dan iklan di angkutan umum. Pasalnya, isolasi dan “jarak sosial” tengah dipromosikan oleh berbagai pemerintah dan badan kesehatan di seluruh duni. Jika orang tak lagi berkumpul atau bepergian dalam beberapa bulan, maka kemungkinan pasar akan turun.

“Namun, ada kemungkinan wabah akan berakhir. Sehingga seluruh pasar iklan akan bangkit kembali pada paruh kedua tahun ini,” ucap eMarketer.

Namun, banyak yang tidak diketahui tentang bagaimana virus berdampak pada pasar dan bisnis global.

“Sementara beberapa industri besar, seperti perjalanan dan pariwisata, telah terpukul keras. Terlalu dini untuk mengatakan seberapa besar dampak yang melemahkan ekonomi global dalam jangka panjang,” tandas eMarketer. (LH)