Topik Wabah Virus Corona Dinilai Sensitif, YouTube Akan Monetisasi

Addiction.id-Jakarta. Platform YouTube dilaporkan melakukan demonetisasi terhadap video terkait wabah virus korona.

Product Officer YouTube Tom Leung menyampaikan bahwa seluruh video yang berkaitan dengan topik tersebut akan mengalami demonetisasi. Ia pun menegaskan, tindakan ini ditujukan untuk melindungi pengiklan.

Pasalnya, video tersebut dinilai sensitif sebagaimana isi pedoman iklan YouTube, dikutip dari The Verge.

Di pedoman iklan YouTube dituliskan bahwa topik disebut sensitif jika melibatkan kehilangan nyawa. Umumnya, terkait dengan peristiwa yang tengah terjadi. Konten seperti itu dinilai tak layak untuk periklanan.

Selain itu, video bisa saja diizinkan diunggah di platform. Namun, pengguna tak berhak menghasilkan uang dari layanan iklan yang terintegrasi YouTube.

Sebagai informasi, wabah virus korona ini menjadi salah satu topik spesifik karena memenuhi kriteria yang diusung YouTube. Lebih dari 95 ribu kasus COVID-19 dilaporkan di seluruh dunia, dan lebih dari 3.200 orang meninggal dunia akibat terjangkit virus ini.

Wabah virus ini bahkan mendorong pembatalan atau pembatalan sejumlah acara besar, seperti Google I/O, Facebook F8 dan Game Developers Conference. Lalu taman rekreasi Disney pun telah menutup seluruh cabang arena bermainnya di wilayah Asia. Pun pegawai kantor banyak yang memilih untuk tinggal di rumah.

Salah satu kreator yang menyuarakan kekhawatiran terkait tindakan demonetisasi video dengan topik tersebut yaitu Linus Sebastian, pemilik saluran Linus Tech Tips. Kemudian Jonathan Downey, pemilik saluran gaming Spawn Wave pun mengaku khawatir. Pihaknya, kata dia, menghindari penggunaan kata ‘virus corona’ pada videonya.

Kendati begitu, tak semua video bertopik sensitif didemonetisasi. Pada 2017 lalu, Casey Neistat dan Philip DeFranco menuntut YouTube memberikan saluran berita kebijakan berbeda, dan berhasil.

Namun, saluran lain yang membahas topik sensitif tetap mengalami demonetisasi. Iklan masih diizinkan di saluran berita resmi meski membahas topik sensitif.

(LH)